Sorong, wabumpapua.com – Nama Roberth Melianus Nauw dikenal sebagai sosok guru, politisi, sekaligus organisator yang memiliki perjalanan hidup penuh dinamika di Tanah Papua, khususnya di wilayah Sorong Raya.

Roberth Mrie Nauw mengawali pendidikan dasarnya dengan melanjutkan studi kelas IV hingga kelas VI di SD Zending Kambuaya. Selama menempuh pendidikan di Kambuaya, ia menumpang tinggal di keluarga Yakob Nauw. Sejak kecil, Roby—sapaan akrabnya—telah menunjukkan prestasi akademik di atas rata-rata.

Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia melanjutkan studi ke Jongens Vervolgschool (JVVS) di Teminabuan dan lulus pada tahun 1963. Selain dikenal cerdas, ia juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Hobinya bermain sepak bola membuatnya cukup populer di kalangan teman-teman sekolah. Tak hanya itu, ia juga gemar berpidato dan bermain drama, bakat yang kelak mendukung kiprahnya di dunia politik.

Usai menamatkan JVVS, Roberth melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Bawahan (SGB) di Biak. Prestasinya yang gemilang di SPG YPK Biak membawanya melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Jayapura, dan ia berhasil lulus pada tahun 1968.

Kariernya sebagai pendidik dimulai ketika ia diutus mengajar di Inanwatan pada periode 1969–1974. Tahun 1975, ia dipindahkan ke Kapidol, Fafanlap, Misool, Raja Ampat. Di Misool, ia bertemu dan jatuh cinta kepada Nona Kaitjili. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai beberapa anak: Herickson Nauw (1975), Flora (1977), Mery (1978), dan Obed Nego Nauw (1979). Mereka juga memiliki seorang anak bungsu yang meninggal dunia akibat musibah tenggelam di sumur rumah dinas SD Negeri 01 Kampung Baru.

Pada periode 1977–1984, Roberth dipercaya menjadi Kepala SD Negeri 01 Kampung Baru. Selain itu, ia juga diamanahkan sebagai bendahara bagi seluruh guru se-Kabupaten Sorong. Dalam kurun waktu 1986–1993, ia menjabat sebagai Kepala SD Inpres HBM.

Memasuki dunia politik, Roberth aktif di Partai Golkar sejak 1979. Untuk memperkuat basis dukungan, ia menggagas berdirinya Yumassess serta membentuk Paguyuban Moi Besar sebagai wadah pengikat solidaritas masyarakat. Pada Pemilu 1987, ia terpilih menjadi Anggota DPRD Dati II Sorong dan dipercaya memimpin Komisi I yang membidangi pemerintahan, politik, dan hukum.

Kepercayaan masyarakat terus mengalir. Pada Pemilu 1992, ia kembali terpilih dan menjabat sebagai Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Sorong. Lima tahun kemudian, pada Pemilu 1997, ia kembali dipercaya sebagai Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sorong.

Dalam perjalanan politiknya, Roberth dikenal sebagai sosok disiplin, perfeksionis, dan cenderung introvert. Ia juga dikenal teliti dalam membaca dan mengkaji draft APBD Kabupaten Sorong. Banyak kader muda yang dibinanya, di antaranya Yan Piet Hara, Martin Snanfi, Rut Osok, Zeth Kadakolo, dan Wempi Nauw.

Pasca-reformasi, pada Pemilu 1999, ia kembali terpilih dan menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Sorong periode 1999–2004. Namun dinamika politik internal Partai Golkar membawa perubahan besar. Dalam Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub), kepemimpinan DPD Golkar beralih kepada John Piet Wanane, S.H., M.Si.
Seiring pemekaran Kota Sorong pada 2003, Roberth menghadapi skenario politik yang membuatnya harus menjalani PAW dan kembali sebagai anggota DPRD Kota Sorong dari daerah pemilihan Sorong Barat. Dengan pertimbangan pribadi dan politik, ia memilih mundur dari jabatan Ketua DPRD Kabupaten Sorong, sekaligus mengundurkan diri dari keanggotaan DPRD Kota Sorong dan Partai Golkar.

Dalam pidato pengunduran dirinya pada Musdalub Golkar di Kota Sorong, ia menyampaikan kalimat yang dikenang banyak orang:
“Hari ini saya mengembalikan jabatan Ketua DPD Golkar kepada guru saya. Hari ini juga saya mengundurkan diri dari jabatan terhormat ini sebagai Ketua DPRD Kabupaten Sorong. Dan hari ini pula saya mengundurkan diri dari jabatan sebagai anggota PAW DPRD Kota Sorong.”

Keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah berpisah dengan istri pertamanya, ia menikah kembali dan dikaruniai empat anak: Natalia Nauw (kini bekerja di PT Freeport Indonesia, Jakarta), Elvira Nauw (pegawai di Provinsi Papua Barat), Nova Missi Nauw (pegawai di Kota Sorong), dan Rudolfo Nauw (pegawai di Provinsi Papua Barat).

Sejak tidak lagi aktif di jabatan politik, Roberth Melianus Nauw menjalani kehidupan sebagai warga biasa. Masa transisi tersebut bukanlah periode mudah, mengingat ia pernah menduduki jabatan strategis sebagai Ketua DPRD dan Ketua DPD Golkar. Namun sebagai pribadi yang matang, ia menerima dinamika politik dengan lapang dada.

Perjalanan hidup Roberth Melianus Nauw menjadi catatan penting dalam sejarah politik lokal Sorong Raya—seorang guru yang menapaki panggung politik, meraih puncak kepemimpinan legislatif, dan memilih mundur dengan caranya sendiri(Ones semunya).