Belanda, wabumpapua.com — Sejumlah tokoh gereja mengingatkan pentingnya pelurusan sejarah terkait kedatangan dua Rasul Kristus di Tanah Papua, yakni C.W. Ottow dan J.G. Geissler. Selama ini masih beredar anggapan bahwa kedua misionaris tersebut tiba di Pulau Mansinam pada hari Minggu. Namun berdasarkan kalender tahun 1855, keduanya diyakini menginjakkan kaki di Mansinam pada hari Senin, 5 Februari 1855.

Hal ini kembali disampaikan dalam Ibadah Syukuran HUT ke-171 tibanya Ottow dan Geissler di Pulau Mansinam, yang diperingati pada 5 Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, disoroti bahwa kekeliruan informasi sejarah perlu segera diluruskan agar tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dijelaskan bahwa kapal Ternate yang membawa kedua misionaris kemungkinan telah berlabuh di Teluk Doreri pada Minggu, 4 Februari 1855. Namun, hari Minggu pada masa itu merupakan hari suci yang dikhususkan untuk beribadah. Seluruh umat Kristen sangat dilarang melakukan aktivitas besar, sehingga kecil kemungkinan Ottow dan Geissler turun ke darat dan beraktivitas pada hari tersebut.

Mengacu pada kalender 1855, Minggu pertama bulan Februari jatuh pada tanggal 4, sementara tanggal 5 merupakan hari Senin. Karena itu, secara logis keduanya baru turun dari kapal dan memulai pelayanan di Mansinam pada Senin, 5 Februari 1855.

Selain itu, tradisi gereja pada masa tersebut menempatkan hari Minggu sebagai hari kudus yang diisi dengan ibadah, puji-pujian, dan doa. Aturan itu bahkan dihormati oleh pemerintah, sehingga aktivitas di luar ibadah sangat dibatasi. Disiplin ini diyakini juga ditaati oleh Ottow dan Geissler sebagai pelayan Injil.

Secara historis, sejak masa Kaisar Konstantinus pada abad ke-4, gereja menetapkan hari Minggu sebagai hari ibadah utama bagi umat Kristen. Kesucian hari Minggu terus dijaga selama berabad-abad di Eropa dan menjadi bagian dari kehidupan rohani para misionaris yang kemudian membawa Injil ke berbagai belahan dunia, termasuk Tanah Papua.

Melalui pelurusan ini, umat diharapkan semakin memahami sejarah pekabaran Injil secara akurat sekaligus menghargai perjuangan para misionaris dalam meletakkan dasar pelayanan gereja di Papua. Keakuratan sejarah dinilai penting agar peringatan hari-hari besar gerejawi dapat dilakukan dengan benar serta menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang(Ones).