Belanda, wabumpapua.com — pelayanan Visiun Athena di Tanah Papua – Indonesia,Fred . Athaboe, S.H., menegaskan bahwa gerakan doa dan pelayanan Visiun Athena didasarkan sepenuhnya pada perintah langsung Tuhan Yesus Kristus, bukan pada ajaran atau gagasan manusia.

Dalam pernyataannya,Fred Athabue menyampaikan bahwa tujuan utama Visiun Athena berbeda dengan lembaga atau yayasan lain yang memiliki fokus kegiatan sosial di Israel. Menurutnya, Visiun Athena lahir dari visi rohani yang diterima langsung melalui pewahyuan Tuhan Yesus di Athena, Yunani, pada 31 Januari 1985.

“Visiun Athena melaksanakan perintah Firman Tuhan Yesus langsung dari sorga. Kami tidak menjalankan suruhan manusia di dunia, tetapi menaati Firman Tuhan Elohim,” tegasnya.

Fred menilai bahwa Yayasan Sabra, yang digagas oleh Moti Klimer di Afula, Israel, memiliki pendekatan yang berbeda karena lebih menekankan pada kegiatan sosial dan pengumpulan dana untuk membantu masyarakat di Israel.
Namun, menurutnya, hal utama yang dibutuhkan bangsa Israel bukan sekadar bantuan ekonomi, melainkan pertobatan dan pengakuan akan Yesus (Yeshua HaMashiach) sebagai Mesias.

“Israel bukan negara miskin. Yang paling dibutuhkan bangsa Yahudi adalah bertobat dan percaya kepada Yeshua HaMashiach,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa Visiun Athena berpegang pada prinsip pengakuan iman yang terbuka kepada Kristus, sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 10:33, “Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di hadapan manusia, Aku pun akan menyangkal dia di hadapan Bapa-Ku di sorga.”

Menurut.Fred Athaboe , pesan ini menjadi landasan iman dan pelayanan yang terus dijalankan oleh Visiun Athena di berbagai daerah di Tanah Papua. Gerakan ini berfokus pada doa bagi Israel dan bagi bangsa-bangsa, sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Tuhan Yesus.

“Visiun Athena berasal dari Tuhan Yesus di sorga. Kami melaksanakan firman-Nya agar bangsa Israel dan seluruh bangsa mengenal kasih Kristus,” tambahnya.

Pernyataan Fred juga menyinggung tentang perbedaan antara gerakan Visiun Athena dengan lembaga-lembaga rohani lain yang ada di Israel, seperti Sabra dan Gideon Papua.

Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menimbulkan perpecahan, melainkan sebagai bentuk klarifikasi visi dan arah pelayanan yang dijalankan oleh Visiun Athena.

“Setiap orang berhak memilih untuk mengikuti manusia atau mengikuti Tuhan Yesus dan firman-Nya. Kami memilih tetap setia kepada panggilan sorgawi ini,” ujarnya.

Penanggung jawab vision Athena di tanah Papua -Indonesia Nebrianus Kambuaya juga menyampaikan terima kasih kepada Fred K. Athaboe, S.H., sebagai salah satu penerima dan saksi dari Visiun Athena yang pertama kali diterima di Athena, Yunani, tahun 1985.
Ia menegaskan bahwa pelayanan ini akan terus dijalankan di Tanah Papua hingga seluruh bangsa mengenal kasih Tuhan Yesus Kristus.

Visiun Athena merupakan gerakan doa profetik internasional yang menekankan doa bagi Israel dan bangsa-bangsa, dengan dasar pewahyuan yang diyakini diterima di Athena, Yunani.
Media ini berkomitmen menyajikan pemberitaan rohani secara berimbang, menghormati setiap keyakinan dan pelayanan yang berlandaskan kasih Kristus.