Belanda,Wabumpapua.com-Tokoh rohani Papua sekaligus penerima pewartaan Visiun Athena, Fred Athaboe, SH, menyampaikan sejumlah saran penting bagi seluruh pelayan, rumah doa, dan persekutuan Visiun Athena di Tanah Papua agar pelayanan doa bagi Israel dapat berjalan lebih efektif, terarah, dan sesuai tujuan rohani dari Visiun Athena.

Tulisan yang dibuat di Nieuwegein, Belanda, tertanggal 23 Mei 2026 itu berisi evaluasi serta masukan bagi pelaksanaan ibadah dan pelayanan Visiun Athena yang selama ini berkembang di berbagai wilayah Papua.

Dalam pengantarnya, Fred Athaboe menyampaikan rasa syukur kepada Elohim Bapa Yang Kekal dan Tuhan Yesus Kristus atas kesetiaan umat Tuhan di Papua yang terus melaksanakan pelayanan doa bagi bangsa Israel sejak pewartaan Visiun Athena tanggal 31 Januari 1985. Ia menilai pelayanan tersebut merupakan bentuk penghormatan umat kepada Tuhan Yesus dan firman-Nya.

Ibadah Visiun Athena Dinilai Masih Menyerupai Liturgi Gereja
Fred Athaboe menyoroti bentuk ibadah Visiun Athena yang menurutnya masih terlalu mengikuti tata ibadah gereja denominasi masing-masing.

Menurut dia, pelayanan Visiun Athena seharusnya memiliki ciri khas tersendiri sebagai gerakan doa syafaat untuk pertobatan dan keselamatan bangsa Israel dan Yahudi.
“Ibadah Visiun Athena adalah gerakan rohani untuk mendoakan Israel, sehingga bentuk ibadahnya harus lebih fokus kepada doa bersama,” tulisnya.

Ia juga mengingatkan agar rumah doa dan mezbah doa tidak hanya menjadi tempat mendengar khotbah panjang, melainkan ruang persekutuan untuk menaikkan doa syafaat secara bersama-sama.

Dalam tulisannya, Fred Athaboe mengkritik kebiasaan sebagian pengkhotbah yang berkhotbah terlalu lama dalam ibadah Visiun Athena.
Menurutnya, khotbah yang baik tidak diukur dari panjangnya waktu, melainkan dari kedalaman kebenaran firman Tuhan yang disampaikan.

Ia menyarankan agar pemberitaan firman cukup disampaikan sekitar 20 hingga 25 menit, dengan isi yang:
jelas,berpusat kepada Kristus,
memuliakan Tuhan,dan sesuai dengan kebenaran Alkitab.

Namun demikian, ia menambahkan bahwa waktu khotbah dapat diperpanjang apabila pelayanan dilakukan di jemaat baru yang belum memahami pengajaran tentang Israel dan Visiun Athena.
Soroti Kebiasaan Memaksa Jemaat Mengucap “Amin”

Fred Athaboe juga menyoroti kebiasaan sebagian pengkhotbah yang berulang kali meminta jemaat mengucapkan “amin” selama khotbah berlangsung.

Menurutnya, tugas seorang pengkhotbah hanyalah menyampaikan firman Tuhan, sedangkan pekerjaan menyentuh hati jemaat merupakan pekerjaan Roh Kudus.
Ia menilai praktik memaksa jemaat untuk terus mengucapkan “amin” bukanlah bagian utama dari tradisi pengajaran Alkitabiah.

Dalam tulisannya, ia bahkan membandingkan pengalaman mendengar pengajaran firman Tuhan di Yerusalem bersama Pastor Benjamin Berger dan Pastor Reuven Berger yang menurutnya tidak pernah menggunakan cara tersebut dalam berkhotbah.

Hal lain yang menjadi perhatian Fred Athaboe adalah praktik penunjukan hanya satu orang sebagai pendoa syafaat dalam ibadah Visiun Athena.
Ia menilai cara tersebut kurang mendidik anggota persekutuan untuk terlibat aktif dalam doa bagi Israel.

Karena itu, ia mengusulkan agar:
beberapa anggota ditunjuk bergantian memimpin doa, seluruh peserta dilibatkan dalam kelompok-kelompok doa kecil, dan setiap anggota diberi kesempatan berdoa secara langsung bagi Israel dan bangsa Yahudi.

Menurutnya, keterlibatan seluruh anggota akan membuat pelayanan doa semakin bertumbuh dan memperkuat rasa memiliki dalam persekutuan.

Fred Athaboe juga memberikan saran khusus apabila pelayanan dilakukan di jemaat atau forum yang belum mengenal Visiun Athena.
Ia meminta agar para pelayan menjelaskan dasar firman Tuhan tentang Israel secara menyeluruh, namun tetap membatasi waktu khotbah sekitar 30–40 menit.
Di akhir pelayanan, ia menyarankan agar jemaat diajak mengambil komitmen untuk mulai mendoakan pertobatan dan keselamatan bangsa Israel setiap hari.

Menurut Fred Athaboe, komitmen doa tersebut penting sebagai bentuk ketaatan umat kepada firman Tuhan dan panggilan rohani Visiun Athena.

Pelayanan Visiun Athena sendiri selama ini terus berkembang di berbagai wilayah Papua dan menjadi salah satu gerakan doa lintas denominasi yang berfokus pada doa bagi bangsa Israel. Pada Januari 2025 lalu, ribuan jemaat dari wilayah Maybrat dan Sorong Selatan merayakan HUT ke-40 Visiun Athena di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya(Ones).