Jerman,Wabumpapua.com — Menjelang akhir Oktober 2025, Tanah Papua kembali meneguhkan dua peristiwa rohani dan historis yang menjadi fondasi kebangkitan bangsa: 100 Tahun Batu Peradaban di Aitumieri dan 74 Tahun Cahaya Theofani di Maybrat. Kedua momentum ini bukan sekadar perayaan tradisi, melainkan ruang refleksi mendalam tentang perjalanan iman, pendidikan, dan identitas bangsa Papua.
Tulisan akademisi Papua, Johanes Eliezer Samsong Wato, Doctoral Researcher pada Bonn International Graduate School Oriental and Asian Studies, University of Bonn, Jerman, memberikan penafsiran baru atas dua tonggak sejarah tersebut. Ia menyebut keduanya sebagai “dua batu yang saling berbicara” satu lewat pendidikan dan peradaban, satu lewat wahyu dan spiritualitas.
Pada 25 Oktober 2025, Tanah Papua memperingati seratus tahun sejak misionaris dan pendidik visioner Izaak Samuel Kijne mengucapkan kalimat bersejarah di Bukit Aitumieri, Miei, Wasior:
“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban bangsa Papua… bangsa ini akan bangkit dan memimpin bangsanya sendiri.”
Bagi Wato, kalimat ini bukan sebatas kutipan rohani melainkan sumpah peradaban, sama seperti batu-batu pengingat dalam tradisi Israel kuno. Batu Aitumieri menjadi simbol perjanjian antara Tuhan, pendidikan, dan masa depan bangsa Papua.
Kijne bukan sekadar misionaris, melainkan pendidik berdarah Yahudi yang memahami makna spiritual “batu” sebagai memori kolektif. Dari sekolah kecil di tengah hutan Miei, ia melahirkan generasi guru, pendeta, dan tokoh masyarakat yang menjadi batu-batu hidup penopang kebangkitan Papua.
Namun, satu abad kemudian, muncul pertanyaan reflektif:
Apakah nubuatan itu benar-benar telah genap? Atau fondasinya semakin retak oleh egoisme dan krisis moral bangsa?
Dua hari sebelum peringatan Batu Peradaban, tepatnya 21 Oktober 2025, masyarakat Maybrat memperingati 74 Tahun Theofani, peristiwa rohani ketika Tuhan Yesus berbicara langsung kepada Guru Ruben Rumbiak di Kayahai, Kambuaya, tahun 1951.
Theofani menjadi momen spiritual yang menyatukan iman Kristen, adat, dan jati diri masyarakat Maybrat — sebuah peristiwa ilahi yang dipercaya menanamkan janji kepemimpinan bagi anak-anak di Aitinyo, Ayamaru, dan Aifat (A3).
Dalam refleksinya, Wato mengutip peringatan dari tokoh gereja, Fred Athaboe, yang menilai bahwa makna rohani Theofani kini mulai memudar.
“Perayaan Theofani telah menjadi pesta sekuler. Jika umat tidak bertobat dan berpuasa, Tuhan akan menarik tangan-Nya dari Maybrat.”
Wato menegaskan bahwa tanpa pertobatan dan kesadaran spiritual, Theofani hanya akan menjadi nostalgia kosong.
Meski lahir dari konteks berbeda, Wato menilai Batu Peradaban Aitumieri dan Theofani Kayahai berbicara dalam satu bahasa ilahi: Batu Aitumieri meneguhkan akal budi, pendidikan, dan pencerahan intelektual. Theofani membangunkan nurani, moral, dan kesadaran rohani. Keduanya merupakan dua sisi dari sebuah panggilan besar: membentuk manusia Papua yang cerdas, beriman, dan berakar pada nilai-nilai luhur.
Wato menekankan bahwa masa depan Papua tidak dapat dibangun hanya dengan kekuasaan politik, tetapi melalui fondasi iman dan ilmu pengetahuan.
Wato menilai bahwa peringatan dua peristiwa besar ini harus menjadi ruang refleksi bagi seluruh Tanah Papua. Ia mengajak generasi muda untuk bertanya:
Apakah pendidikan hari ini masih setia pada semangat pelayanan seperti yang diajarkan Kijne?
Apakah gereja dan masyarakat masih menjaga kemurnian pesan Theofani?
Apakah modernitas membuat Papua kehilangan nilai spiritual, adat, dan kekeluargaan?
Dalam dunia yang semakin pragmatis, kedua momentum itu harus dipahami sebagai benteng moral agar bangsa Papua tidak kehilangan arah.
Wato menegaskan bahwa masyarakat Maybrat, sebagai penerima Theofani, memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga kesucian iman dan kehidupan sosial.
Ia mengingatkan bahwa segala bentuk penyembahan terhadap kuasa duniawi baik berupa jabatan, uang, maupun politik,harus ditinggalkan. Kembali pada doa, puasa, dan kasih adalah inti dari pewahyuan 1951.
Sementara bagi seluruh Papua, dua peristiwa ini adalah panggilan untuk:
membangun pendidikan yang humanis,menjaga iman yang hidup,melahirkan kepemimpinan berintegritas, dan membangun Papua atas dasar kasih, bukan ambisi.
Seratus tahun Batu Peradaban dan tujuh puluh empat tahun Theofani adalah dua mercusuar yang menuntun Papua menatap masa depan.
Wato mengajak seluruh masyarakat untuk merenungkan pertanyaan mendalam:
Apakah kita masih berdiri di atas batu itu? Apakah cahaya itu masih membimbing langkah kita?
Ia berharap nubuatan Kijne “Bangsa ini akan bangkit dan memimpin bangsanya sendiri”
benar-benar menjadi kenyataan, dan cahaya Theofani terus menyala di setiap hati anak Papua, dari Aitumieri hingga Pegunungan Tengah, dari Teluk Cenderawasih hingga Kepala Burung;(Ones semunya).




komentar terbaru