Maybrat, wabumpapua.com— Ketua Yayasan Generasi Emas Theofani A3-Maybrat, Nebrianus Kambuaya, menegaskan pentingnya pelurusan sejarah masuknya Injil di tanah Papua, khususnya di wilayah suku A3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat). Ia menekankan bahwa sejarah spiritual dan panggilan rohani yang diwariskan para pendahulu memiliki makna besar bagi generasi masa kini dalam memahami karya Tuhan di tanah Papua.

Dalam penjelasannya, Nebrianus Kambuaya memaparkan secara runtut sejarah pergerakan Injil di tanah Papua, dimulai dari Amanat Agung berdasarkan Matius 28:18-20, yang diwujudkan melalui kedatangan misionaris Otto dan Geisler pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, Manokwari yang menjadi tonggak awal Injil bagi bangsa Papua.

Kemudian, sejarah kepemimpinan rohani di tanah Papua berlanjut pada 25 Oktober 1925, melalui pelayanan tokoh pendidikan dan rohaniwan I.S. Kijne, yang dikenal dengan prinsip “Hidup untuk Melayani Tuhan.”

Selanjutnya, Injil menjangkau suku A3-Maybrat pada 17 Januari 1937 melalui Abraham Mafa Sair, yang membuka lembaran baru pewartaan firman di wilayah Aitinyo. Menurut Nebrianus, dari sinilah proses panjang penyebaran Injil bagi suku A3 dimulai dan terus berkembang hingga masa kini.

Lebih lanjut, Nebrianus mengaitkan perjalanan tersebut dengan peristiwa-peristiwa rohani yang ia sebut sebagai bagian dari rencana Elohim Israel untuk kebangkitan rohani di tanah Papua. Ia menyebut momen penting seperti Visiun Athena pada 31 Januari 1985, yang menjadi simbol panggilan rohani bagi suku A3 untuk berdoa bagi pertobatan dan keselamatan bangsa Israel, sebagaimana tertulis dalam Kejadian 12:3.

“Berkat besar bagi Papua berawal dari ketaatan pada panggilan ilahi. Melalui visi ini, kita belajar bahwa doa bagi Israel adalah bagian dari mandat rohani yang juga membawa berkat bagi bangsa Papua,” ungkap Nebrianus Kambuaya, Rabu (15/10/2025).

Ia juga menjelaskan, bahwa pada 18 Maret 1994, terjadi penandatanganan MOU Kesatuan Tubuh Kristus antara perwakilan suku A3 dan Gereja Kristus Jemaat Anak Domba di Gunung Sion, Yerusalem, melalui Pdt. Benjamin Berger dan Pdt. Reuven Berger. Momen ini menandai hubungan iman antara Papua dan Yerusalem dalam semangat kesatuan tubuh Kristus sebagaimana diungkapkan dalam kitab Efesus 2 dan 4.

Nebrianus menuturkan bahwa setiap tahun sejak 2015, Yayasan Generasi Emas Theofani A3 secara konsisten merayakan Hari Ulang Tahun Generasi Emas Theofani, sebagai bentuk peringatan dan syukur atas perjalanan iman dan karya Tuhan bagi masyarakat A3. Dalam setiap perayaan, pihaknya juga menerima surat berkat dari Yerusalem, sebagai bentuk dukungan rohani bagi kelanjutan pelayanan Theofani.

Ia menambahkan, perjalanan iman ini juga berpengaruh pada pelayanannya di bidang pemerintahan. Saat menjabat sebagai anggota DPRK Maybrat periode 2019–2024, ia memperjuangkan agar nilai-nilai rohani Theofani dapat diakui dalam bentuk kebijakan daerah.

“Puji Tuhan, akhirnya visi dan nilai Theofani dapat dibahas di lembaga DPRK Maybrat dan dijadikan rujukan moral dalam pembangunan daerah. Ini bukan hanya tentang agama, tetapi tentang kesadaran rohani untuk membangun masyarakat dengan nilai kasih, iman, dan kebenaran,” tutur Nebrianus.

Dalam refleksinya, Nebrianus juga mengutip Yohanes 1:1–18, yang menegaskan bahwa Firman Allah adalah terang yang menerangi setiap manusia. Ia mengingatkan bahwa pembenahan kehidupan masyarakat, termasuk di tanah A3, harus dimulai dari pemahaman Injil sebagai dasar moral dan spiritual.

“Anak cucu A3 tidak bisa diberkati dengan kata-kata hampa, melainkan dengan visi Tuhan. Karena di mana tidak ada wahyu, bangsa binasa. (Amsal 29:18-19),” tegasnya.

Menutup penjelasannya, Nebrianus mengajak seluruh pihak—baik pemerintah, gereja, maupun masyarakat adat—untuk melihat persoalan Injil dan nilai-nilai rohani sebagai hal yang sangat penting dalam membangun manusia Papua seutuhnya.

“Ada tiga tungku yang harus berjalan bersama: Injil, Pemerintah, dan Adat. Jika tiga hal ini dirapikan dan dikerjakan dengan benar, Papua akan bangkit menjadi berkat bagi bangsa-bangsa,” pungkasnya.