Sorong,wabumpapua com— Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, S.Sos, menyampaikan pesan persatuan, optimisme, dan soliditas pembangunan saat melantik dan mengukuhkan Lembaga Pemberdayaan Elang Center, sebuah mitra strategis pemerintah daerah yang dibentuk untuk memperkuat pemberdayaan manusia serta mendorong pembangunan sosial.

Dalam sambutannya, Gubernur Kambu mengatakan bahwa suasana kehangatan dalam pertemuan tersebut mengingatkannya pada masa kampanye yang penuh kedekatan dan kekeluargaan.

“Saya lihat suasananya sama seperti waktu kampanye—tidak ada ketegangan, tidak ada hal yang mencemaskan. Semua ini karena Tuhan, bukan karena kita,” ujarnya.

Kambu mengakui bahwa selama satu tahun pertama masa jabatannya, ia belum sempat bertemu seluruh elemen pendukung. Karena itu, momentum pengukuhan ini menjadi ruang silaturahmi penting untuk menyambung kembali komunikasi setelah proses Pemilu.

Ia menegaskan bahwa seluruh dinamika politik telah selesai, namun partisipasi masyarakat tetap dibuka seluas-luasnya demi kepentingan pembangunan daerah.

“Tidak perlu diperdebatkan. Sepanjang niatnya baik untuk kepentingan bersama, welcome. Bukan untuk kepentingan sesat, bukan hal-hal yang merugikan,” tegas Elisa kambu,Selasa (2/12/2025).

Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang bekerja keras selama lima bulan proses politik, hingga mengantarkannya bersama Ahmad Nasrallah terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur Papua Barat Daya.

Dalam arahannya, Kambu menekankan pentingnya penyatuan gagasan dari seluruh elemen masyarakat untuk mempercepat pembangunan Papua Barat Daya.

“Kita semua hadir bukan untuk Elisa Kambu, bukan untuk Ahmad Nasrallah. Kita hadir untuk Papua Barat Daya,” ujarnya menegaskan.

Ia menyebut sejumlah program prioritas yang kini dijalankan pemerintah daerah, antara lain: Pendidikan gratis untuk wilayah perkotaan, Pengiriman 16 dokter spesialis pada tahun ini, Penguatan karakter dan disiplin generasi muda dan Penanganan berbagai persoalan sosial masyarakat
Gubernur juga menyoroti tantangan kedisiplinan di kalangan pelajar dan mahasiswa Papua.

“Banyak anak Papua sekolah bagus, tapi karena tidak disiplin, tidak tertib, akhirnya gagal. Kita harus mulai hidup tertib, disiplin, dan fokus,” katanya.

Meski mengakui keterbatasan kemampuan fiskal daerah—dengan PAD mendekati Rp230 miliar dan total anggaran sekitar Rp1,8 triliun—Kambu meminta masyarakat tetap optimis.

“Tuhan tidak pernah terlambat. Kita harus sabar. Saya yakin 2027 keadaan akan berubah,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa pemerintah daerah membutuhkan dukungan dan kolaborasi semua pihak agar pembangunan berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.