I
Maybrat, wabumpapua.com – Pemerintah Kabupaten Maybrat bersama masyarakat, pemuda, tokoh gereja, serta keluarga para penginjil menggelar Ibadah Syukur memperingati 89 Tahun Pekabaran Injil di Tanah Maybrat, yang dipusatkan di Dusun Ikowok, Distrik Aitinyo Tengah, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, Sabtu (17/1/2026).
Ibadah syukur ini memperingati peristiwa bersejarah pendaratan Injil pada 17 Januari 1937, saat dua Guru Injil asal Maluku, Yakobus Solisa dan Yohan Frans, tiba di Ikowok bersama Bistir Manuputi, setelah diminta secara resmi dari pusat pendidikan Kristen Kate-kate, Ambon.
Kedatangan para Guru Injil tersebut disambut secara adat oleh Bowe Bosawer bersama para tua-tua masyarakat Asnaif/Yase dan Johromo. Dalam suasana penuh sukacita, doa, dan penerimaan iman, Injil keselamatan diterima sebagai kabar damai yang mengakhiri masa panjang peperangan hongi serta penindasan adat.
Secara spontan, masyarakat menetapkan Yakobus Solisa untuk melayani wilayah Yase/Asnaif, sementara Yohan Frans melayani masyarakat Johromo Aitinyo. Peristiwa ini dikenang sebagai lahirnya jemaat pertama di wilayah Maybrat yang mengalami lawatan Roh Kudus, bukan melalui khotbah formal, melainkan lewat perjumpaan iman dan kasih yang tulus.
Ibadah HUT Pekabaran Injil ke-89 dipimpin oleh Pdt. Hans Wanma, S.Th, dari Mansinam, Manokwari. Dalam khotbahnya, ia mengajak seluruh jemaat memaknai usia 89 tahun pendaratan Injil sebagai bukti nyata kasih Tuhan yang membebaskan umat-Nya dari penderitaan, ketakutan, peperangan adat, dan kegelapan rohani.
“Dahulu kita hidup dalam kegelapan, dalam kesusahan, ketakutan, dan awan mendung. Tetapi hari ini Tuhan telah menggantikannya dengan terang, damai, dan kehidupan yang baru,” tegas Pdt. Hans Wanma.
Ia menekankan bahwa Injil yang datang ke Tanah Papua bukan Injil milik suku atau bangsa tertentu, melainkan Injil Yesus Kristus untuk semua orang, tanpa membedakan warna kulit, latar belakang suku, maupun daerah asal.
Menurutnya, para guru Injil perintis datang dengan pengorbanan, iman, dan ketaatan. Mereka bukan hanya memberitakan keselamatan, tetapi juga membuka jalan bagi pendidikan, kesehatan, persatuan, dan peradaban.
“Injil inilah yang mengubah gunung-gunung yang dahulu dianggap pamali menjadi tempat pujian bagi Tuhan. Injil inilah yang mempersatukan kita untuk menyembah Tuhan yang satu, Tuhan Yesus Kristus,” ujarnya.
Menutup khotbahnya, Pdt. Hans Wanma mengajak generasi muda Papua untuk menjaga iman dan jati diri sebagai anak-anak terang, tidak larut dalam kebingungan zaman, serta tetap berpegang pada nilai-nilai Injil yang telah diwariskan para pendahulu.
Ibadah syukur berlangsung dengan penuh hikmat dan sukacita, diwarnai pujian, drama rohani, doa syafaat, serta keterlibatan lintas generasi sebagai ungkapan syukur atas 89 tahun terang Injil yang terus bersinar di Tanah Papua
Dalam sambutan Bupati Kabupaten Maybrat, Karel Murafer, SH, MA, yang disampaikan oleh Staf Ahli Bidang Hukum, Yunus Bortal, SH, pemerintah daerah mendorong agar sejarah Pekabaran Injil di Maybrat dituntaskan melalui penelitian akademik dan seminar ilmiah.
pembentukan tim independen lintas gereja dan akademisi, yang hasil kajiannya akan ditetapkan melalui sidang gereja, kemudian diusulkan kepada pemerintah daerah untuk ditetapkan dalam Peraturan Daerah (Perda), bahkan sebagai hari libur fakultatif bagi seluruh masyarakat Maybrat.
“Jangan sampai hari sukacita ini justru menjadi sumber perbedaan. Injil adalah milik seluruh orang Maybrat,” tegasnya
Ketua Klasis Ayamaru, Pdt. Abraham Semunya, S.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan 89 tahun Pekabaran Injil di Ikowok bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan keputusan iman yang hidup.
Mengutip Roma 10:15, “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik,” ia menyampaikan rasa syukur atas buah Injil yang nyata di Maybrat, yang telah melahirkan generasi pemimpin, hamba Tuhan, dan pelayan masyarakat.
Ia juga menegaskan komitmen gereja agar peringatan Pekabaran Injil terus dirayakan setiap tahun, sekaligus mendorong penyatuan data sejarah melalui kajian ilmiah agar tidak terjadi dualisme sejarah.
Sementara itu, Ketua Panitia, Yesaya Way, dalam laporannya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, tokoh gereja, para undangan, serta seluruh masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan perayaan HUT Pekabaran Injil ke-89.
Rangkaian ibadah syukur diwarnai pujian, drama sejarah, doa, dan suasana haru yang mencerminkan kuatnya warisan Injil dalam membentuk identitas dan persatuan orang Maybrat.
Seluruh pihak diharapkan terus menjaga persatuan, kedamaian, dan semangat Injil, agar terang yang telah menyala sejak tahun 1937 tetap diwariskan secara turun-temurun kepada generasi muda Maybrat.




komentar terbaru