Ikowok, Maybrat,Wabumpapua.com– Peristiwa pendaratan Injil di Bumi A3 Maybrat merupakan bagian penting dari sejarah peradaban orang Maybrat dan Tanah Papua secara umum.
Perjumpaan bersejarah itu terjadi pada 17 Januari 1937 di Ikowok, wilayah Asnaif/Yase, Distrik Aitinyo, yang hingga kini dikenang sebagai awal lahirnya jemaat Kristen pertama di wilayah pedalaman Maybrat.
Awal Gerakan Misi Zendeling di Tanah Papua
Gerakan pekabaran Injil ke Tanah Papua tidak terlepas dari aktivitas misi Zendeling di Eropa, khususnya Belanda, Jerman, dan Inggris. Pada tahun 1847, tokoh Zendeling Belanda O.G. Heldring mencetuskan gagasan pengutusan misionaris ke Irian Barat (New Guinea), yang pada masa itu dipandang sebagai wilayah “gelap”, terpencil, dan belum tersentuh Kekristenan.
Upaya ini berlanjut dengan pengiriman misi pertama ke Batavia pada tahun 1851, hingga akhirnya pada 5 Februari 1855, dua penginjil Jerman, C.W. Ottow dan J.G. Geissler, tiba di Pulau Mansinam sebagai tonggak awal masuknya Injil di Tanah Papua.
Sejak saat itu, pekerjaan Zendeling berkembang pesat, terutama di wilayah Manokwari, Teluk Cenderawasih, Fakfak, Babo, Inanwatan, hingga Sorong dan Raja Ampat. Tokoh-tokoh penting seperti Pdt. I.S. Kijne, Pdt. Slump, Pdt. Westeng, dan Pdt. Eygendal memainkan peran besar dalam bidang pendidikan dan penginjilan.
Masuknya Injil ke Wilayah Kais dan Aitinyo
Pada 16 April 1916, Pemerintah Belanda membentuk Distrik Kais/Kampung Baru yang meliputi wilayah Kais Pante dan Kais Darat. Upaya menjangkau pedalaman Aitinyo (Maybrat) sempat mengalami hambatan akibat perang hongi antarsuku.
Tokoh-tokoh lokal seperti Bistir Litai, Abraham Monsafe, dan Mafa Tigori kemudian berperan penting membuka jalan komunikasi dengan masyarakat Asnaif dan Johromo. Dari sinilah muncul nama Bowe Bosawer, tokoh adat Asnaif/Yase, yang menjadi jembatan utama masuknya Injil ke wilayah Aitinyo.
Permintaan Guru Injil dan Peristiwa Ikowok 1937
Kerinduan masyarakat akan Injil mendorong Bistir Manuputi untuk mengajukan permintaan resmi tenaga penginjil ke pusat pendidikan Kristen di Kate-kate, Ambon. Pada awal Januari 1937, dua Guru Injil asal Maluku, Yakobus Solisa dan Yohan Frans, tiba di Kampung Baru (Kais).
Pada 17 Januari 1937, rombongan penginjil bersama Bistir Manuputi tiba di Ikowok, dan disambut secara adat oleh Bowe Bosawer beserta para tua-tua Asnaif dan Johromo. Dalam suasana doa dan sukacita, terjadilah perjumpaan bersejarah yang menandai diterimanya Injil sebagai jalan hidup baru bagi masyarakat Maybrat.
Secara spontan, Yakobus Solisa dipilih melayani masyarakat Asnaif/Yase, sementara Yohan Frans melayani masyarakat Johromo Aitinyo. Peristiwa ini diyakini sebagai lawatan Roh Kudus pertama di wilayah pedalaman Maybrat.
Makna Sosial dan Spiritual
Perjumpaan Ikowok memiliki makna sosial dan teologis yang mendalam. Injil hadir sebagai:
Pembawa damai di tengah perang hongi, Penuntun hidup baru yang menjunjung kasih, keadilan, dan kebenaran, Pembebas dari ketakutan terhadap praktik adat yang menindas.
Nilai hidup baru diperkenalkan, termasuk konsep dosa (iro) dan keselamatan (riof mase/iranya/rinati), yang membentuk fondasi moral masyarakat hingga kini.
Buah Pekabaran Injil
Dampak Injil di Maybrat melahirkan buah nyata di berbagai bidang:
- Penginjilan
Empat penginjil lokal diutus ke wilayah Mare dan Ayamaru.
- Pendidikan
Lahir tokoh-tokoh intelektual Maybrat, termasuk Drs. Silas Antoh, dosen orang Maybrat pertama di Universitas Cenderawasih.
- Pertanian
Diperkenalkannya kacang tanah dan bawang merah sebagai komoditas pertanian tertua di Maybrat.
- Pemerintahan dan Politik
Munculnya pemimpin-pemimpin daerah, termasuk Dr. John P. Wanane, Bupati pertama orang Maybrat dan tokoh pembangunan Sorong Raya.
Warisan yang Harus Dijaga
Peristiwa Ikowok 1937 menjadi fondasi spiritual dan sosial masyarakat Maybrat. Nilai jemaat mbau (pamali), persatuan, kerendahan hati, kasih, dan penghormatan kepada Tuhan dan sesama menjadi warisan iman yang terus dijaga lintas generasi.
“Syukur bagi-Mu Tuhan, Engkau telah memilih tempat ini sebagai pintu berkat bagi Maybrat dan Tanah Papua.”
Ikowok, 17 Januari 2026
Penulis Alur dan Naskah:
Dolfinus Way, S.Sos




komentar terbaru