Maybrat, wabumpapua.com — Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu secara resmi membuka kegiatan Seminar dan Diskusi Panel dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Teofani ke-74 di Bumi A3, Kabupaten Maybrat, Sabtu (18/10/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan HUT Teofani yang puncaknya akan digelar pada Selasa, 21 Oktober 2025 di Pendopo Kabupaten Maybrat. Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh pemerintahan, gereja, akademisi, dan perwakilan masyarakat dari seluruh suku A3 di Tanah Papua.
Dalam sambutannya, Gubernur Elisa Kambu menegaskan bahwa momentum Teofani bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi sebuah refleksi iman dan panggilan untuk memperbaiki diri, baik secara pribadi maupun kolektif sebagai masyarakat suku A3.
“Puji dan syukur patut kita persembahkan kepada Tuhan. Hari ini kita datang karena perintah Tuhan, untuk bersyukur dan berbicara tentang persoalan-persoalan yang kita hadapi. Banyak hal yang dulu dijaga oleh orang tua kita mulai hilang; sekarang saatnya kita kembalikan nilai-nilai itu,” ujar Gubernur Kambu.
Ia menekankan bahwa generasi A3 masa kini harus berani berbenah diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan hidup dalam pertobatan yang sejati. Menurutnya, banyak masalah sosial di masyarakat muncul karena hilangnya penghargaan terhadap sesama dan kurangnya keteladanan dari para pemimpin.
“Segala hal yang membuat kita miskin dan terpuruk harus diputuskan. Kalau mau maju, kita harus bertobat total. Pemimpin harus menjadi teladan sebab seperti tertulis dalam Mazmur 133, berkat itu turun dari kepala, baru ke seluruh tubuh. Maka kalau pemimpin baik, rakyat juga diberkati,” tegasnya.
Dalam bagian lain pidatonya, Gubernur Elisa Kambu juga memberikan pesan kuat kepada generasi muda suku A3 untuk tidak bergantung pada orang lain dan terus mengembangkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di masa depan.
“Anak-anak A3 tidak boleh kalah dari generasi sebelumnya. Jangan bergantung pada orang lain. Harus mandiri, jujur, setia, dan bertanggung jawab. Dunia belum kiamat; kalau kita masih hidup hari ini, berarti kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta seminar.
Ia juga menyoroti berbagai persoalan sosial seperti perilaku konsumtif, penyalahgunaan uang, dan gaya hidup tidak produktif yang menurutnya membuat banyak orang kehilangan arah dan jatuh dalam kemiskinan.
“Banyak dari kita yang miskin bukan karena tidak punya peluang, tetapi karena tidak mau belajar, tidak mau bekerja keras, dan terlalu banyak mengikuti gaya hidup yang salah. Kita harus berani berubah,” tambahnya.
Menutup arahannya, Gubernur Papua Barat Daya mengingatkan pentingnya menjaga kasih, kesatuan, dan kedamaian antar sesama suku maupun antar kelompok di Tanah Papua. Ia mengajak seluruh peserta untuk saling menghargai dan tidak saling menjatuhkan.
“Dari mulut kita hanya boleh keluar dua hal: berkat atau kutuk. Karena itu, mari kita pilih untuk memberkati, bukan mengutuk. Jangan saling menjatuhkan, jangan iri, jangan benci. Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kasih,” tegas Gubernur Elisa Kambu.
Gubernur juga berharap agar hasil seminar ini tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi menjadi dasar bagi perubahan nyata di tengah masyarakat A3.
“Teofani harus melahirkan manusia-manusia pembangunan di tanah ini. Jangan lihat diri sendiri, tapi lihat semua orang di Papua Barat Daya. Mari kita bekerja bersama, menjaga nilai-nilai kebaikan, dan memuliakan nama Tuhan,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat A3 diharapkan terus memperkuat iman, menjaga kasih persaudaraan, serta menumbuhkan semangat persatuan dalam membangun Tanah Papua yang beradab dan diberkati.
Reporter: Ones
Editor: Tim Redaksi wabumpapua. Com
Lokasi: Maybrat, Papua Barat Daya
Tanggal: 18 Oktober 2025




komentar terbaru