Maybrat, wabumpapua.com — Jemaat GKI Efata Kocuwer, Klasis Aifat, menggelar perayaan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil (HUT PI) ke-73 pada Jumat, 12 Desember 2025. Ibadah syukur berlangsung penuh sukacita dan refleksi iman, dengan mengusung tema “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya” (Roma 1:16b) serta subtema “Injil telah menembus kehidupan kegelapan dengan memberi cahaya terang keselamatan. Responlah keselamatan dengan hidup saling mengasihi, mengampuni, dan peduli dalam persekutuan, pelayanan, dan kesaksian bagi kemuliaan Tuhan.”

Wakil Bupati Maybrat, Ferdinando Solossa, dalam sambutannya menyampaikan pesan reflektif tentang pentingnya tanggung jawab generasi hari ini terhadap warisan Injil yang telah menerangi masyarakat Kocuwer sejak 1952.

“Hari ini kita euforia di atas penderitaan orang tua kita. Mereka berkekurangan, fasilitas terbatas, tetapi memiliki prinsip menjaga martabat. Dari gelap terbitlah terang. Pertanyaannya: 73 tahun ke depan, Kocuwer ini mau dibawa ke mana?”

Ia menekankan bahwa perayaan HUT PI tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus diikuti langkah nyata melalui penyusunan “rencana aksi 73 tahun berikutnya”.

Ferdinando mengingatkan bahwa Injil telah melahirkan banyak intelektual dan pemimpin dari Kokas Raya — baik dalam pemerintahan maupun gereja. Karena itu, ia meminta masyarakat Kocuwer untuk berdiri di garis depan mendukung pembangunan Kabupaten Maybrat hingga 2030.

“Kita tidak boleh hidup dalam konflik, kebencian, atau saling menjatuhkan. Injil yang masuk 73 tahun lalu harus memulihkan relasi kita,” tegasnya.

Dalam khotbahnya, Pdt. Frits Saparue, Wakil Ketua BPAM Sinode GKI Tanah Papua, menekankan bahwa Injil bersifat dinamis — mengubah, membebaskan, dan memulihkan.

Ia mengingatkan jemaat tentang perjalanan para pembawa Injil seperti Kapitan, Habel Saha, dan Nabot Genuni yang memperkenalkan terang Injil kepada masyarakat Kocuwer.

“Papua waktu itu hidup dalam kegelapan: perang suku, perbudakan, dan saling membenci. Injil datang membawa transformasi dan melahirkan gereja-gereja sebagai agen pembaharu.”

Menurutnya, siapa pun yang masih memelihara kebencian, permusuhan, dan perpecahan berarti sedang mengkhianati Injil.

“Injil mendatangkan damai, bukan permusuhan. Injil menciptakan persekutuan, bukan perpecahan.”

Dalam doa syukur, Pdt. Frits menegaskan bahwa seluruh capaian masyarakat Kocuwer — pendidikan, kepemimpinan, dan perubahan sosial — adalah buah dari Injil. Ia berdoa memohon pemulihan bagi tanah Kocuwer, khususnya terkait luka sejarah seperti konflik tahun 2011 dan 2024.

Peringatan 12 Desember sebagai awal Pekabaran Injil di Kocuwer bukan hanya untuk mengenang Nabot Genuni yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini pada 1952. Ibadah mengajak jemaat merenungkan kembali bagaimana Injil menuntun masyarakat keluar dari “kegelapan” dan “kesia-siaan hidup”.

Meski terang Injil telah menyinari masyarakat selama 73 tahun, jemaat juga diingatkan bahwa masih banyak orang yang belum memahami atau menerima terang itu sepenuhnya.

Karena itu, umat diajak mengucap,
“Syukur bagi-Mu, Tuhan,”
atas keselamatan dan pemulihan yang diberikan Allah.

Ketua Panitia, Elimelek Frasawi, dalam laporannya menyampaikan bahwa perayaan HUT PI ke-73 bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan Ungkapan syukur atas anugerah Tuhan bagi Jemaat Efata,Perayaan iman atas rahmat Tuhan yang terus mengalir dan Dorongan bagi jemaat untuk meningkatkan kualitas kerohanian dan kebersamaan.

Perayaan HUT PI ke-73 Jemaat GKI Efata Kocuwer menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali perjalanan panjang transformasi iman, budaya, pendidikan, dan karakter masyarakat.

Dari “kegelapan” menuju “terang”, Injil telah menjadi fondasi pembentukan masyarakat Kocuwer. Kini muncul pertanyaan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perayaan ini bukan hanya mengenang sejarah, tetapi mengajak seluruh masyarakat membangun komitmen bersama menuju masa depan yang lebih terang — penuh kasih, persatuan, dan damai sejahtera.

Perayaan ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah, gereja, dan tokoh masyarakat, antara lain Wakil Bupati Maybrat Ferdinando Solossa,Sekda Maybrat Ferdinandus Taa,Wakil Ketua BPAM Sinode GKI Tanah Papua Pdt. Frits Saparue,Ketua Klasis GKI Aifat Pdt. Siprianus Assem,Sekretaris Klasis GKI Aifat Pdt. Susan Sahetapy,Ketua DPRK Maybrat Silas Frasawi,Tokoh masyarakat Agustinus Saa,EV. Zefanya Yewun,Dandim 1809/Maybrat,Para hamba Tuhan dari 14 gereja se-Kokas Raya,Pimpinan organisasi gereja dan pemerintah