TelukWondama ,wabumpapua.com-Sebuah foto bersejarah menampilkan Dr. Pdt. Izaak Samuel Kijne (I.S. Kijne) sedang memegang sebuah bola kaki di Bukit Aitumeri, Miei, Teluk Wondama. Momen ini bukan sekadar potret biasa, melainkan simbol awal berkembangnya olahraga sepak bola di Tanah Papua sebuah warisan budaya dan pendidikan yang masih terasa hingga kini.
Dr. Pdt. I.S. Kijne adalah seorang misionaris, pendidik, dan rohaniwan yang memiliki peran besar dalam membangun dasar pendidikan dan moral di Tanah Papua. Kedatangannya di wilayah Papua pada awal abad ke-20 bukan hanya membawa kabar Injil, tetapi juga semangat kemajuan melalui pendidikan, disiplin, dan olahraga.
Bukit Aitumeri, tempat ia mengajar dan membina para siswa di Sekolah Guru Injil (SGI) Miei, menjadi salah satu pusat pendidikan pertama di Tanah Papua. Dari tempat inilah lahir generasi-generasi muda Papua yang kemudian menjadi pemimpin di berbagai bidang — gereja, pemerintahan, maupun masyarakat.
Simbol bola kaki yang dipegang oleh Kijne dalam foto tersebut menggambarkan bagaimana ia memperkenalkan pendidikan jasmani dan olahraga sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa. Sepak bola dijadikan media untuk menanamkan nilai kerjasama, sportivitas, dan semangat juang.
“Bola kaki bukan sekadar permainan. Di dalamnya ada pelajaran tentang disiplin, kerja sama, dan menghargai sesama. Itulah yang ingin diajarkan Kijne kepada murid-muridnya,” ungkap salah satu tokoh pendidikan Teluk Wondama dalam sebuah wawancara.
Kegiatan olahraga yang digagas oleh Kijne di Aitumeri kemudian berkembang dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Banyak sekolah dan lembaga misi di masa itu yang menjadikan sepak bola sebagai sarana pembinaan generasi muda.
Lebih dari sekadar pelopor olahraga, Dr. Pdt. I.S. Kijne juga dikenal luas melalui karyanya yang monumental — lagu dan semboyan yang kini menjadi bagian dari jati diri masyarakat Papua:
“Hanya orang yang berpikir panjang yang dapat memimpin orang yang berpikir pendek.”
Warisan pemikiran dan karya Kijne terus hidup dalam semangat masyarakat Papua hingga kini. Ia dikenang bukan hanya sebagai penginjil dan pendidik, tetapi juga sebagai pionir budaya dan pembentuk karakter bangsa di Tanah Papua.




komentar terbaru