Maybrat ,wabumpapua.com— Ketua Yayasan Generasi Emas Theofani A3, Nebrianus Kambuaya, menegaskan kembali makna dan tujuan rohani dari peristiwa Theofani 21 Oktober 1951 dan Visiun Athena 31 Januari 1985 sebagai bagian dari perjalanan iman dan panggilan rohani suku A3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat) di Tanah Papua.
Dalam penjelasannya, Nebrianus Kambuaya menyebut bahwa Theofani bukanlah gerakan politik, melainkan ilham atau hikmat Roh yang diberikan oleh Elohim Israel kepada Rasul Ruben Rumbiak pada tahun 1951 di Tanah New Guinea. Melalui mandat ini, Tuhan menugaskan suku A3 menjadi manusia pembangunan, baik secara rohani maupun jasmani.
“Theofani adalah peristiwa rohani di mana Elohim memberikan mandat kepada suku A3 untuk berdiri di garda terdepan dalam aspek rohani dan jasmani. Namun selama ini yang banyak dijalankan adalah aspek jasmani, sementara aspek rohani sering terabaikan,” tegas Nebrianus, Rabu (15/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa Theofani mengandung nilai-nilai buah Roh sebagaimana tertulis dalam Galatia 5:22–27, yang mencakup kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Menurutnya, pemahaman terhadap Theofani saat ini baru mencapai 0,1%, sebab banyak orang A3 menafsirkan maknanya secara setengah-setengah dan lebih menekankan pada berkat jasmani daripada berkat rohani.
“Orang A3 harus berjalan dengan dua ban, yaitu rohani dan jasmani. Kalau satu ban kempes, maka kendaraan kehidupan tidak akan bisa berjalan,” tambahnya memberi perumpamaan.
Lebih lanjut, Nebrianus mengaitkan sejarah rohani ini dengan Visiun Athena 31 Januari 1985, yang disebutnya sebagai puncak atau penggenapan dari masa Theofani. Dalam peristiwa rohani di Athena tersebut, Tuhan kembali meneguhkan panggilan kekal bagi suku A3 untuk menjadi berkat bagi Tanah Papua dan bangsa-bangsa.
Ia juga menjelaskan garis sejarah ilahi yang disebutnya sebagai “Lurus Injil dari Aitinyo – Theofani – Visiun Athena”, yang mencerminkan kesinambungan karya Tuhan melalui suku A3: Aitinyo (17 Januari 1937) — awal izin rohani bagi suku Aitinyo. Theofani (21 Oktober 1951) — turunnya mandat rohani dari Elohim Israel. Visiun Athena (31 Januari 1985) — puncak panggilan kekal dan penyegelan berkat rohani.
Nebrianus menegaskan bahwa akar dari peristiwa-peristiwa ini tertulis dalam Kejadian 12:1–3, di mana Tuhan berfirman kepada Abraham untuk menjadi berkat bagi segala suku dan bangsa.
“Pilihan manusia hanya dua — berkat kekal atau kutuk kekal, sebagaimana tertulis dalam Kejadian 12:3. Siapa yang memberkati, ia akan diberkati; siapa yang mengutuk, ia akan dikutuk,” katanya menutup penjelasan.
Dalam catatan khususnya, Nebrianus juga menyerukan kepada Pemerintah Kabupaten Maybrat, di bawah kepemimpinan Bupati Karel Murafer dan Wakil Bupati Ferdinando Solossa, agar memperhatikan makna tahun ini sebagai tahun penting 1 Abad Aitumeri — yang menurutnya memiliki kaitan spiritual langsung dengan Theofani dan Visiun Athena.
Nebrianus berharap agar pemahaman dan nilai-nilai rohani dari Theofani dan Visiun Athena dapat kembali dimaknai secara benar oleh seluruh generasi A3, agar mereka menjadi berkat bagi Tanah Papua, baik dalam pembangunan iman maupun kehidupan sosial.




komentar terbaru