Maybrat, wabumpapua.com—
Menjelang peringatan satu abad nubuat Dominee Ishak Samuel Kijne yang dikenal dengan “Doa Sulung” di Wasior tahun 1925, masyarakat Papua kembali mengenang tiga tonggak penting dalam sejarah iman, peradaban, cydan harapan orang Papua. Tiga peristiwia rohani yang diyakini menjadi dasar kebangkitan spiritual dan moral bagi generasi Papua ini adalah Doa Sulung Ishak Samuel Kijne (1925), Theofani di Kayahai (1951), dan Firman Tuhan dalam Visiun di Athena (1985).

Dominee Ishak Samuel Kijne, seorang misionaris yang mengabdi di Tanah Papua pada masa Hindia Belanda, menyampaikan pesan profetis yang hingga kini masih dikenang oleh seluruh masyarakat Papua. Di atas sebuah batu di Wasior pada 25 Oktober 1925, Kijne berkata:

“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”

Pernyataan tersebut dikenal luas sebagai Doa Sulung, dan menjadi simbol lahirnya peradaban dan kesadaran bangsa Papua untuk mandiri, beriman, dan memimpin dirinya sendiri di masa depan.

Dua puluh enam tahun kemudian, tepatnya pada 21 Oktober 1951, di Kayahai (daerah Aitinyo, Kabupaten Maybrat), terjadi peristiwa yang disebut Theofani, yakni pewahyuan ilahi kepada hamba Tuhan Ruben Rumbiak. Dalam pengalaman rohani itu, Tuhan yang disebut sebagai “Aku Tuhan Alfa dan Omega” menyampaikan pesan agar disampaikan kepada lima tokoh muda Papua: Abraham Kambuaya, Simon Isir, Piter Howay, Markus Solossa, dan Habel Tamunete.

Pesan tersebut menekankan pentingnya pembentukan karakter generasi muda Papua di wilayah Ayamaru, Aitinyo, dan Aifat (A3) untuk menjadi manusia pembangunan di Tanah New Guinea dalam 10, 15, 25 hingga 30 tahun mendatang.
Nilai-nilai utama yang ditekankan dalam pesan Theofani ini meliputi:

Pelihara kesatuan,Kerendahan hati,Kasih, dan Kehormatan kepada semua orang.

Peristiwa ini dianggap sebagai kelanjutan dari visi besar Kijne—bahwa bangsa Papua akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri melalui kasih, iman, dan pendidikan.

Sementara itu, pada 31 Januari 1985, sebuah pengalaman rohani kembali dilaporkan di Athena, Yunani, di mana Tuhan Yesus berbicara melalui visi kepada seorang hamba Tuhan bernama Fred. Dalam firman itu, Tuhan menegur agar manusia tidak hanya berdoa untuk diri, keluarga, dan bangsanya sendiri, tetapi juga mendoakan umat Israel.

“Berdoalah bagi umat-Ku Israel, maka Aku akan memberkati engkau dan keluargamu serta bangsamu bersama-sama dengan umat-Ku Israel,” demikian firman Tuhan dalam visi tersebut.

Pesan ini dipandang sebagai panggilan agar umat percaya di Papua dan seluruh dunia menaruh perhatian pada kasih universal dan rencana keselamatan Tuhan bagi semua bangsa.

Tiga peristiwa ini—Doa Sulung 1925, Theofani 1951, dan Visi di Athena 1985—menjadi rangkaian sejarah spiritual yang diyakini menandai perjalanan iman orang Papua dari zaman ke zaman. Nilai-nilai yang diwariskan melalui pesan-pesan tersebut menjadi fondasi moral dan spiritual bagi generasi muda Papua untuk terus menjaga kesatuan, kedamaian, serta tanggung jawab dalam membangun tanah dan bangsanya.

Momen peringatan satu abad Doa Sulung Kijne (1925–2025) diharapkan menjadi ajang refleksi bagi seluruh masyarakat Papua untuk kembali meneguhkan komitmen terhadap iman, pendidikan, dan persaudaraan sejati demi mewujudkan peradaban yang mandiri dan berkeadilan di Tanah Papua.