Maybrat, Wabumpapua.Com — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Maybrat, Silas Frasawi, menyampaikan pesan moral kepada masyarakat Maybrat dalam rangka menyongsong pelaksanaan Seminar Sehari tentang sejarah awal mula peradaban penginjilan di Tanah Maybrat.

Dalam pesan moralnya, Silas menekankan pentingnya masyarakat, khususnya generasi muda, memahami, menjaga, dan menghormati sejarah leluhur sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Maybrat.

Silas mengatakan, dirinya menyampaikan pesan tersebut bukan hanya dalam kapasitas sebagai Ketua DPRD Kabupaten Maybrat, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar yang memiliki hubungan genealogis dengan Raja Bowe Bosawer, tokoh adat dari Aitinyo yang menurut tradisi dan kesaksian sejarah setempat memiliki peran dalam proses awal masuknya Injil di wilayah Maybrat.

Menurut Silas, sejarah harus ditempatkan sebagai bagian dari warisan bersama yang perlu dikaji secara terbuka, berdasarkan sumber-sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Sejarah tidak bisa dibohongi dan tidak bisa direkayasa. Kebenaran sejarah akan terungkap pada waktunya,” tegas Silas, jumat (18/9/2026).

Ia menilai, pembahasan mengenai sejarah awal penginjilan di Maybrat tidak semestinya menjadi sumber perpecahan atau klaim antarkelompok. Sebaliknya, sejarah harus menjadi sarana untuk memperkuat persatuan dan menghargai jasa para leluhur yang telah meletakkan dasar kehidupan masyarakat Maybrat.

Silas juga menekankan bahwa pengakuan terhadap fakta sejarah bukan dimaksudkan untuk membanggakan kelompok atau wilayah tertentu, tetapi menjadi dasar untuk membangun masa depan Maybrat yang bermartabat.

Kaitkan dengan Pesan Theofani
Dalam pesannya, Silas turut mengangkat empat pilar pesan Theofani yang dikaitkan dengan Pdt. Ruben Rumbiak di Kayahae (Kambuaya), Distrik Ayamaru, pada 1951.

Empat nilai yang disampaikan meliputi kejujuran dan integritas, persatuan dalam kasih, ketaatan pada Firman Tuhan, serta pelestarian identitas dan nilai-nilai budaya.
Silas mengatakan, nilai kejujuran dan integritas harus menjadi landasan dalam upaya menggali sejarah penginjilan di Tanah Maybrat.
“Memutarbalikkan sejarah adalah bertentangan dengan nilai kejujuran. Karena itu, sejarah harus dijaga melalui kajian, dokumentasi, dan penghormatan terhadap kesaksian para tetua serta sumber-sumber sejarah yang tersedia,” ujarnya.

Ia berharap seminar sehari tersebut tidak hanya menjadi forum untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menghasilkan rekomendasi yang dapat mendorong penelitian, dokumentasi, dan pelestarian sejarah penginjilan di Tanah Maybrat.

Silas secara khusus mengajak generasi muda Maybrat untuk tidak meninggalkan sejarah dan budaya leluhur di tengah perkembangan teknologi serta derasnya informasi di media sosial.

Generasi muda, katanya, perlu mendengar langsung kesaksian para tetua adat dan keluarga-keluarga yang memiliki pengetahuan mengenai sejarah awal penginjilan di Maybrat. Informasi tersebut selanjutnya perlu dikaji dan didokumentasikan agar dapat menjadi referensi bagi generasi mendatang.
“Generasi muda adalah pewaris sejarah. Karena itu, jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang belum jelas sumbernya. Mari kita belajar sejarah melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan,” pesannya.

Lebih lanjut, Silas mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, tokoh agama, akademisi, pemerintah daerah, dan generasi muda, untuk menjadikan seminar tersebut sebagai momentum memperkuat persatuan masyarakat Maybrat.

Ia menegaskan, perbedaan pandangan mengenai sejarah hendaknya diselesaikan melalui dialog, penelitian, dan kajian akademis, bukan melalui pertentangan antarmasyarakat.
“Mari kita bersatu dalam kebenaran. Jangan biarkan sejarah kita hilang, diubah, atau dipalsukan. Kita harus menghormati akar sejarah dan jasa para leluhur yang telah membuka jalan bagi generasi kita saat ini,” pungkas Silas.

Silas berharap seminar sehari sejarah awal mula peradaban penginjilan di Tanah Maybrat dapat menjadi titik awal bagi upaya yang lebih serius dalam menggali, menguji, mendokumentasikan, dan melestarikan sejarah Maybrat sebagai warisan bersama bagi generasi sekarang dan yang akan datang.Maybrat Hebat, Papua Barat Daya Jaya(Ones).