MAYBRAT, Wabumpapua.Com – Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Wilayah Maybrat menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I Tahun 2026 yang berlangsung di Gereja GSJA Jemaat Bukit Doa, Kampung Ikuf, Distrik Aitinyo Raya, Kabupaten Maybrat, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Maybrat, Zergius Turot, dan dihadiri Ketua Daerah GSJA Papua Barat Daya, Yulius Sangkek, anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Barat Daya, Agustinus Jitmau, anggota DPRK Maybrat, Matheus Basna, para utusan gereja GSJA se-Wilayah Maybrat, tamu undangan serta warga jemaat.
Rakerwil I ini menjadi momentum penting bagi jajaran pengurus dan pelayan GSJA Wilayah Maybrat untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program kerja, menyampaikan pertanggungjawaban organisasi, sekaligus merumuskan arah pelayanan gereja ke depan.
Dalam sambutannya, Asisten III Setda Maybrat, Zergius Turot, menyampaikan bahwa rapat kerja wilayah bukan sekadar pertemuan untuk membahas program kerja, tetapi juga menjadi wadah evaluasi, refleksi, pertanggungjawaban, serta penyusunan langkah-langkah strategis bagi keberlanjutan organisasi dan pelayanan gereja.
Menurutnya, Rakerwil kali ini memiliki makna tersendiri karena dilaksanakan dalam rangka mengakhiri masa kepengurusan GSJA Wilayah Maybrat periode 2023–2026.
Karena itu, ia berharap seluruh peserta memanfaatkan forum tersebut untuk mengevaluasi seluruh program dan kegiatan yang telah dilaksanakan selama masa kepengurusan.
“Program yang telah berhasil perlu dipertahankan dan ditingkatkan, sedangkan hal-hal yang belum terlaksana atau masih memiliki kekurangan hendaknya dibahas dan dijadikan bahan pertimbangan untuk perbaikan ke depan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Zergius juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pengurus GSJA Wilayah Maybrat periode 2023–2026 atas dedikasi, pengorbanan, waktu dan tenaga yang telah diberikan dalam menjalankan tugas pelayanan organisasi.
Ia mengakui bahwa menjalankan sebuah organisasi bukanlah pekerjaan mudah karena terdapat berbagai tantangan, keterbatasan dan dinamika yang harus dihadapi.
Namun, seluruh proses tersebut merupakan bagian dari pembelajaran dan pendewasaan organisasi dalam pelayanan.
Ia menegaskan bahwa berakhirnya masa kepengurusan bukan berarti berakhir pula pengabdian kepada Tuhan dan sesama.
“Karena itu, saya berharap semangat melayani tetap terpelihara, baik bagi pengurus yang akan mengakhiri masa tugas maupun mereka yang nantinya dipercayakan untuk melanjutkan kepemimpinan organisasi,” pesannya.
Lebih lanjut, Zergius menyampaikan empat hal penting yang perlu menjadi perhatian seluruh peserta Rakerwil.
Pertama, mengutamakan persatuan dan kebersamaan. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi, tetapi tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Seluruh proses evaluasi dan pengambilan keputusan harus dilaksanakan dengan semangat kekeluargaan, saling menghargai serta mengutamakan kepentingan pelayanan gereja.
Kedua, melaksanakan evaluasi dan pertanggungjawaban secara terbuka. Ia meminta agar seluruh program selama masa kepengurusan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, transparan dan sesuai ketentuan organisasi. Evaluasi juga harus menjadi kesempatan untuk mengukur capaian, mengidentifikasi berbagai kendala serta menemukan solusi guna meningkatkan kualitas pelayanan.
Ketiga, mempersiapkan kepemimpinan yang mampu melanjutkan pelayanan. Pergantian kepengurusan merupakan bagian dari dinamika dan regenerasi organisasi.

Oleh sebab itu, apabila dalam Rakerwil dilakukan proses pemilihan atau penetapan pengurus baru, hendaknya dilaksanakan sesuai mekanisme organisasi dengan mengutamakan integritas, kedewasaan dan semangat kebersamaan.
Ia menambahkan bahwa kepemimpinan gereja bukan semata-mata tentang jabatan, melainkan kesediaan untuk melayani, memberikan teladan serta mengabdikan diri bagi Tuhan dan sesama.
Keempat, menjadikan gereja sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, sekolah dan fasilitas umum lainnya, tetapi juga mencakup pembangunan mental, spiritual, moral serta karakter masyarakat.
Dalam hubungan kemitraan tersebut, Pemerintah Kabupaten Maybrat selama ini terus berupaya memberikan dukungan kepada gereja-gereja melalui bantuan pembangunan, dukungan kegiatan kerohanian, termasuk program pembayaran honor bagi para hamba Tuhan.
Terkait sejumlah usulan yang disampaikan dalam forum Rakerwil, Zergius mengatakan pemerintah daerah akan meneruskannya kepada pimpinan daerah untuk mendapatkan perhatian dan tindak lanjut sesuai kemampuan keuangan daerah.
Ia juga meminta panitia yang diberikan tanggung jawab terkait rencana pembangunan kantor agar segera menyiapkan dan memasukkan proposal kepada pemerintah daerah.
“Silakan panitia yang ditugaskan membuat proposal dan memasukkannya kepada pemerintah daerah agar menjadi perhatian pimpinan.

Kondisi keuangan daerah saat ini cukup ketat, sehingga proposal perlu disampaikan lebih awal sebelum pembahasan anggaran agar dapat dipertimbangkan dan diprogramkan dalam Tahun Anggaran 2027,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa pengajuan usulan pembangunan maupun kegiatan gereja perlu memperhatikan tahapan perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah, mengingat tahun anggaran 2026 segera berakhir.
Di akhir sambutannya, Zergius berharap GSJA Wilayah Maybrat terus mengambil bagian dalam membina kehidupan iman umat serta memperkuat nilai-nilai moral dan spiritual masyarakat.
Melalui pelaksanaan Rakerwil I Tahun 2026 ini, diharapkan lahir keputusan dan program kerja yang terarah, realistis serta dapat dilaksanakan bersama oleh seluruh pengurus dan jemaat GSJA di Kabupaten Maybrat.
Pemerintah Kabupaten Maybrat juga berharap kemitraan antara gereja dan pemerintah daerah terus terjalin dengan baik demi mendukung pembangunan masyarakat yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga memiliki kehidupan rohani, moral dan karakter yang kuat;ujarnya(Ones).




komentar terbaru