Maybrat, WabumPapua.com — Ketua Yayasan Generasi Emas Theofani A3, sekaligus Penanggung Jawab Visiun Athena di Tanah Papua–Indonesia, Nebrianus Kambuaya, mengajak seluruh masyarakat Papua — khususnya suku A3 (Aitinyo, Aifat, Ayamaru) — untuk kembali memahami dan menghidupi sejarah rohani yang telah menjadi fondasi iman bagi tanah ini.
Menurut Nebrianus Kambuaya, perjalanan iman suku A3 bukan sekadar catatan sejarah lokal, melainkan bagian dari panggilan ilahi yang terkait dengan rencana keselamatan bangsa-bangsa. Ia menegaskan bahwa sejarah besar rohani Papua dapat dirunut melalui tiga tonggak penting yang selaras dengan Ulangan 16:16, tentang tiga hari raya besar orang Israel.
Tuhan berikan kepada papua adalah: 17 Januari 1937 – Injil masuk di Tanah A3 Pada 21 Oktober 1951 – Theofani bagi suku A3; dan 31 Januari 1985 – panggilan bangsa Papua untuk berdoa bagi pertobatan dan keselamatan bangsa Israel,” ujar Nebrianus Kambuaya, Sabtu (19/10/2025).
Selain itu, tanggal 18 Maret 1994 juga menjadi tonggak penting yang menandai hubungan pengutusan gereja Papua dengan jemaat Mesianik di Yerusalem. Semua peristiwa ini diyakini sebagai bagian dari “rahasia kekal” yang masih perlu dipahami lebih dalam oleh generasi muda suku A3.
Nebrianus Kambuaya menilai bahwa pemerintah, baik di tingkat Kabupaten Maybrat maupun Provinsi Papua Barat Daya, termasuk para gubernur di Tanah Papua, perlu memberi perhatian serius terhadap pembinaan iman dan pendidikan karakter orang asli Papua.
“Sudah saatnya pemerintah membangun asrama pembinaan rohani bagi orang asli Papua dan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus. Di tempat inilah generasi baru bisa dididik untuk memahami sejarah perjalanan Injil dan panggilan ilahi bagi Papua,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Papua adalah negeri di ujung timur yang disebut “tanah susu dan madu”, dan memiliki peran penting dalam mengantarkan kembali pemberitaan Injil ke Yerusalem — sebuah visi besar yang disebutnya sebagai Visiun Athena.
Dalam momentum HUT Theofani ke-74 Tahun di wilayah A3, Kambuaya menyoroti pentingnya refleksi iman yang lebih dalam. Ia menekankan, perayaan rohani tidak seharusnya hanya menjadi ajang seremonial tahunan, tetapi harus melahirkan perubahan nyata dalam perilaku masyarakat.
“Kita jangan hanya euforia tiga hari acara, lalu pulang dan menunggu tahun depan. Theofani harus menjadi dasar untuk membangun generasi yang hidup dalam kasih, kerendahan hati, kesatuan, dan kehormatan — atau yang saya sebut 4K,” ungkapnya.
Ia juga mengutip beberapa rujukan Alkitab sebagai dasar pembinaan rohani generasi A3: Amsal 29:18–19: “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.”
Mazmur 22:30–31: “Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang.”
2 Timotius 1:13–14: “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dariku sebagai teladan ajaran yang sehat dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.”
Menurut Kambuaya, ayat-ayat ini menjadi fondasi pembentukan karakter generasi A3 yang berakar pada Firman Tuhan dan dipanggil untuk menjadi terang bagi negeri.
“Papua kehilangan arah bukan karena kekuasaan atau kekayaan, tetapi karena kita belum sungguh-sungguh memahami panggilan Tuhan bagi bangsa ini. Kita harus bangkit, menjadi terang bagi negeri, dan mengawal generasi A3 dengan tindakan nyata,” tutupnya.
Lebih lanjut, Nebrianus Kambuaya menegaskan bahwa akar persoalan di Papua bukan semata-mata soal politik, ekonomi, atau sosial, melainkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap rencana Tuhan Elohim bagi tanah ini.
Selama lebih dari 12 tahun, Nebrianus Kambuaya telah melayani sebagai pengajar dan pembina di Mezbah Doa Aitinyo , mendidik generasi muda agar memahami peran mereka dalam karya keselamatan Allah di Tanah Papua dan bangsa-bangsa.




komentar terbaru