Maybrat, WabumPapua.com —
Dalam refleksi menjelang HUT ke-74 Teofani, para tokoh rohani dan masyarakat A3 (Aitinyo, Aifat, Ayamaru) di Kabupaten Maybrat kembali menegaskan makna besar sejarah iman di Tanah Papua. Bahwa perjalanan rohani Papua bukan sekadar kisah lokal, melainkan bagian dari panggilan ilahi yang terkait dengan rencana keselamatan bangsa-bangsa.
Tokoh rohani A3, Nebrianus Kambuaya, dalam pesannya pada Sabtu (19/10/2025), menjelaskan bahwa sejarah besar rohani Papua dapat dirunut melalui tiga tonggak penting yang selaras dengan Ulangan 16:16 — tentang tiga hari raya besar bagi bangsa Israel.
Menurutnya, tiga tonggak sejarah rohani yang Tuhan berikan kepada Papua, khususnya bagi suku A3 di Maybrat, adalah sebagai berikut:
17 Januari 1937 – Injil pertama kali masuk di Tanah A3.
Momentum ini menandai awal perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, dari zaman kegelapan menuju terang Injil Kristus.21 Oktober 1951 – Peristiwa Teofani bagi suku A3.
Dalam peristiwa ini, Allah menampakkan kasih dan kuasa-Nya secara nyata, meneguhkan panggilan A3 sebagai pemimpin rohani bagi Tanah New Guinea.
31 Januari 1985 – Panggilan bagi bangsa Papua untuk berdoa bagi pertobatan dan keselamatan bangsa Israel.
Panggilan ini diyakini sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar, di mana Papua turut mengambil bagian dalam misi global doa dan keselamatan bangsa-bangsa.
“Tuhan berikan kepada Papua adalah: 17 Januari 1937 – Injil masuk di Tanah A3; 21 Oktober 1951 – Teofani bagi suku A3; dan 31 Januari 1985 – panggilan bangsa Papua untuk berdoa bagi pertobatan dan keselamatan bangsa Israel,” ujar Nebrianus Kambuaya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sejarah rohani ini juga berlanjut dengan peristiwa 18 Maret 1994, yang menandai hubungan pengutusan gereja Papua dengan jemaat Mesianik di Yerusalem.
Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata keterhubungan rohani antara Papua dan Israel dalam konteks doa, iman, dan pelayanan.
Nebrianus menegaskan, seluruh rangkaian sejarah tersebut merupakan bagian dari “rahasia kekal” yang masih perlu terus dipahami dan dihidupi oleh generasi muda A3.
Ia mengajak umat untuk tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghidupinya dalam kasih, kesatuan, dan panggilan pelayanan bagi kemuliaan Tuhan.
“Sejarah iman Papua bukan berhenti di masa lalu. Ini adalah warisan yang menuntun kita untuk hidup dalam panggilan dan tanggung jawab rohani — menjadi terang bagi bangsa-bangsa,” pungkasnya.




komentar terbaru