Maybrat, wabumpapua.com– Wakil Ketua III Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, Penatua Dr. Naomi Netty Howay, S.KM., M.Kes, secara resmi membuka Rapat Kerja (Raker) IV Klasis GKI Ayamaru yang dilaksanakan di Jemaat GKI Sion Mapura, Distrik Ayamaru Timur, Kabupaten Maybrat, Rabu(16/12/2025).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Maybrat, Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua Wilayah VII, Badan Pekerja Klasis GKI Ayamaru, unsur TNI–Polri, para kepala distrik dan kepala kampung se-Wilayah Ayamaru Utara dan Timur, para pendeta, guru injil, penatua, syamas, utusan dari 29 jemaat, tokoh intelektual Maybrat, serta tamu undangan lintas denominasi gereja.

Raker IV Klasis GKI Ayamaru mengusung tema:
“Kasih Kristus Menggerakkan Kemandirian Gereja Mewujudkan Keadilan, Perdamaian, dan Kesejahteraan”
(2 Korintus 5:18–19; Mazmur 72:2–3),

dengan subtema:
“Melalui Raker IV Klasis Ayamaru sebagai ajang pemersatu umat, mewujudkan keadilan dan keamanan bagi semua umat di Klasis GKI Ayamaru di Tahun Kepedulian 2025.”

Wakil ketua IIi Sinode GKI Tanah Papua Penatua Dr. Naomi Netty Howay menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja, karena Raker IV dapat terlaksana sesuai keputusan Sidang Klasis Ayamaru ke-13.

Ia menjelaskan bahwa sesuai tata Gereja GKI di Tanah Papua, Raker hanya dilaksanakan sebanyak empat kali, sehingga pada tahun 2026 Klasis GKI Ayamaru tidak lagi menggelar Raker, melainkan rapat koordinasi untuk mempersiapkan Sidang Klasis ke-14.

“Klasis Ayamaru menjadi salah satu klasis di Wilayah VII yang telah menyelesaikan Raker IV. Tahun depan kita fokus pada koordinasi dan persiapan sidang,” ujarnya.

Penatua Naomi menegaskan bahwa tahun 2025 merupakan Tahun Kesehatan, dan mulai Januari 2026 GKI di Tanah Papua memasuki Tahun Kepedulian, yang menitikberatkan pada dua aspek utama, yaitu kepedulian terhadap manusia (jemaat) dan kepedulian terhadap alam ciptaan Tuhan.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan, pembukaan hutan, dan rusaknya daerah resapan air berpotensi menimbulkan bencana di masa depan, termasuk di wilayah Maybrat. Karena itu, gereja dipanggil untuk aktif menjaga ciptaan Tuhan sebagaimana tertuang dalam pengakuan iman GKI di Tanah Papua.

Dalam arahannya, Wakil Ketua III Sinode juga menekankan pentingnya penjaringan majelis jemaat yang berintegritas, berkomitmen, dan mampu menjadi teladan bagi umat.

Ia menjelaskan bahwa masa jabatan majelis dibatasi dua periode, namun dalam kondisi tertentu dapat diberlakukan kekhususan agar pelayanan gereja tetap berjalan. Menurutnya, integritas majelis sangat menentukan kualitas pelayanan gereja di tengah masyarakat.

Penatua Naomi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Maybrat atas dukungan nyata terhadap gereja, mulai dari pembangunan gereja dan pastori, bantuan kesejahteraan pelayan firman, hingga penyediaan kendaraan operasional bagi Klasis GKI Ayamaru.

Ia berharap sinergi gereja dan pemerintah daerah terus diperkuat, terutama dalam menindaklanjuti rekomendasi-rekomendasi strategis hasil Raker IV.

Sementara itu, Wakil Bupati Maybrat, Ferdinando Solossa, menegaskan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara gereja dan pemerintah dalam menghadapi tantangan pelayanan, persoalan sosial, serta kondisi ekonomi nasional yang tengah mengalami pengetatan fiskal.

Menurut Wabup, program pelayanan gereja ke depan harus disusun berdasarkan evaluasi satu tahun pelayanan sebelumnya, sehingga menjadi dasar perencanaan program tahun 2026 yang realistis dan terukur.

“Gereja adalah mitra strategis pemerintah. Di satu sisi kita adalah pemerintah, tetapi di sisi lain kita semua adalah warga jemaat dan warga masyarakat. Karena itu, tanggung jawab pelayanan dan pembangunan harus berjalan seiring sesuai tugas dan fungsi masing-masing,” ujar Wabup.

Wabup Maybrat menjelaskan bahwa kondisi keuangan negara saat ini menuntut efisiensi anggaran, sehingga gereja di semua tingkatan perlu menyesuaikan program dengan siklus perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah.

Ia menegaskan bahwa pengajuan bantuan hibah tidak bisa dilakukan secara mendadak, melainkan harus direncanakan dan disampaikan satu tahun sebelumnya.

“Semua harus direncanakan, dianggarkan, dilaksanakan, dan dipertanggungjawabkan sesuai aturan,” tegasnya.

Wabup Ferdinando juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi jemaat, agar gereja tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah. Ia menyebut masih terdapat aset gereja yang dibangun melalui APBD namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Dalam sambutannya, Wabup Maybrat menyampaikan keprihatinan terhadap tingginya angka kematian, penyalahgunaan minuman keras, serta berbagai persoalan sosial lainnya. Ia menilai gereja perlu melakukan evaluasi pelayanan secara komprehensif agar firman Tuhan tidak hanya didengar di dalam gereja, tetapi juga dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Mengacu pada visi Pemerintah Kabupaten Maybrat, “Terwujudnya Maybrat yang Aman, Sejahtera, dan Mandiri”, Wabup menegaskan bahwa aspek keamanan menjadi prioritas utama.

Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Wabup mengimbau seluruh warga gereja agar tidak terlibat dalam peredaran miras maupun tindakan yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat.

“Jangan sampai suasana Natal dirusak oleh perbuatan kita sendiri. Gereja harus menjadi teladan,” pesannya.

Menutup sambutannya, Wakil Bupati Maybrat menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, khususnya Klasis GKI Ayamaru dan seluruh jemaat, atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin dengan pemerintah daerah.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, gereja, dan aparat keamanan terus diperkuat demi mewujudkan Maybrat yang aman, damai, dan sejahtera.