Maybrat, WabumPapua.com – Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Marten Iek, S.Pd., M.Si, secara resmi menutup rangkaian kegiatan promosi cagar budaya tingkat lokal, nasional, hingga internasional dalam kegiatan Festival Danau Ayamaru Tahun 2025. Penutupan tersebut berlangsung pada malam puncak festival di Lapangan Ela, Kabupaten Maybrat, Jumat malam, dengan mengusung tema “Menjaga Pesona Ayamaru, Jendela Budaya untuk Masa Depan”.
Dalam sambutannya, Marten Iek menegaskan bahwa pelaksanaan Festival Danau Ayamaru bukanlah kegiatan yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan bagian dari program rutin tahunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya. Ia menjelaskan bahwa penetapan Kabupaten Maybrat sebagai tuan rumah merupakan hasil keputusan pada pelaksanaan festival seni budaya pertama yang sebelumnya digelar di Kabupaten Sorong.
“Festival ini bersifat khusus dan strategis. Tujuannya bukan sekadar hiburan, tetapi untuk mengangkat, mempromosikan, dan melestarikan Danau Ayamaru beserta masyarakat serta kampung-kampung yang hidup di sekitarnya,” ujar Marten Iek.
Ia menekankan bahwa kekayaan alam seperti Danau Ayamaru dapat mengalami kerusakan, bahkan hilang, apabila tidak dijaga secara bersama-sama. Perubahan kondisi air danau yang kini semakin keruh, menurutnya, menjadi tanda peringatan serius bagi semua pihak.
“Jika hutan dan gunung di sekitar danau dirusak, maka sumber mata air akan hilang. Ini menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat,” tegasnya.
Marten Iek juga mendorong Pemerintah Kabupaten Maybrat untuk menetapkan regulasi dan kebijakan perlindungan lingkungan, khususnya bagi kawasan Danau Ayamaru dan masyarakat di sekitarnya, sebagai bagian dari upaya pelestarian jangka panjang.
Selain aspek lingkungan, ia menegaskan pentingnya penguatan seni dan budaya lokal yang harus terus diangkat dan dipromosikan, baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan akan punah apabila tidak diwariskan dan ditampilkan kepada generasi muda.
“Festival ini membuka kesadaran kita bahwa banyak warisan leluhur—seperti cerita rakyat, ritual adat, makanan lokal, dan ekspresi seni—yang selama ini dianggap biasa, padahal memiliki nilai budaya yang sangat tinggi,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa dalam festival seni budaya tidak dikenal istilah kalah atau menang. Seluruh penampil merupakan yang terbaik, karena budaya tidak dapat diukur dengan sistem juara seperti perlombaan pada umumnya.
“Penilaian dewan juri bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk memotivasi generasi muda agar terus berkreasi dan mencintai budaya sendiri,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Marten Iek menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh sanggar seni budaya, para pendamping, penari, panitia, serta masyarakat yang telah mendukung suksesnya festival selama tiga hari berturut-turut. Ia juga mengapresiasi kehadiran peserta dari berbagai daerah, seperti Raja Ampat, Sorong Selatan, Kabupaten Sorong, Kota Sorong, dan wilayah lainnya di Provinsi Papua Barat Daya.
“Kehadiran saudara-saudara kita dari berbagai kabupaten dan kota merupakan bentuk dukungan nyata bagi Kabupaten Maybrat,” ungkapnya.
Tak lupa, Marten Iek menyampaikan terima kasih kepada unsur TNI–Polri, pemerintah distrik dan kampung, serta seluruh pihak keamanan yang telah menjaga ketertiban dan kelancaran kegiatan festival.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan Festival Seni Budaya Danau Ayamaru Tahun 2025,” pungkasnya.




komentar terbaru