Maybrat,Wabumpapua.com— Kabupaten Maybrat memiliki beragam potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah. Salah satu komoditas lokal yang dinilai memiliki prospek besar adalah cempedak atau Artocarpus integer, khususnya yang tumbuh melimpah di Distrik Aifat Selatan dan Aifat Timur.

Hal tersebut diungkapkan Herman Wafom Tubur, SP., M.Si., Dosen Fakultas Pertanian Universitas Papua sekaligus Anggota Pokja Papua Produktif BPP Provinsi Papua Barat Daya, dalam kajian bertajuk “Mengoptimalkan Potensi Cempedak sebagai Komoditas Unggulan Lokal Distrik Aifat Selatan dan Aifat Timur, Kabupaten Maybrat.”

Dalam istilah masyarakat lokal, cempedak dikenal dengan sebutan “Soraf”.

Tanaman tersebut tumbuh secara alami di hutan maupun kebun masyarakat dan telah lama menjadi bagian dari sumber pangan sekaligus ekonomi rumah tangga masyarakat adat.
Menurut kajian tersebut, cempedak tidak hanya memiliki cita rasa khas dan nilai gizi, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah, seperti keripik, dodol, manisan, selai, tepung, serta berbagai produk pangan lainnya.

Layak Secara Ekonomi

Hasil analisis kelayakan usaha tani menunjukkan bahwa satu pohon cempedak produktif dengan asumsi produksi rata-rata 100 buah per tahun dan harga jual Rp15.000 per buah dapat menghasilkan penerimaan sekitar Rp1,5 juta per tahun.

Dengan total biaya produksi yang diperkirakan mencapai Rp800 ribu per pohon per tahun, pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp700 ribu. Sementara itu, nilai Benefit Cost Ratio (B/C) mencapai 1,88, yang menunjukkan bahwa usaha tani cempedak secara ekonomi layak untuk dikembangkan.

Kajian juga menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dapat memberikan dampak signifikan terhadap keuntungan petani. Pada produktivitas 150 buah per pohon, B/C Ratio diperkirakan mencapai 2,81, sedangkan pada 200 buah per pohon dapat mencapai 3,75.

Apabila seorang petani memiliki 30 pohon produktif, dengan asumsi produksi 100 buah per pohon per tahun, potensi penjualan mencapai Rp45 juta, dengan biaya sekitar Rp24 juta dan laba bersih sekitar Rp21 juta per tahun.
Potensi tersebut semakin besar apabila dikembangkan dalam skala kampung. Kajian memperkirakan satu kampung dengan 100 petani yang masing-masing memiliki rata-rata 30 pohon produktif dapat menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp4,5 miliar per tahun dari penjualan buah segar. Nilai tersebut berpotensi meningkat dua hingga empat kali lipat apabila sebagian hasil panen diolah menjadi produk bernilai tambah.

Infrastruktur dan Hilirisasi Menjadi Kunci

Meski memiliki potensi ekonomi yang besar, pengembangan cempedak di Aifat Selatan dan Aifat Timur masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya keterbatasan infrastruktur jalan, tingginya biaya transportasi, lemahnya rantai pasok, minimnya teknologi pengolahan, serta terbatasnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan petani.
Kondisi jalan yang belum memadai menyebabkan distribusi hasil panen menuju pasar menjadi sulit. Biaya transportasi juga relatif tinggi, dengan estimasi rata-rata antara Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta, serta meningkatkan risiko kerusakan buah selama proses pengangkutan.

Karena itu, pengembangan cempedak tidak cukup hanya dilakukan dengan meningkatkan produksi. Diperlukan kebijakan yang mencakup pembangunan jalan produksi dan jembatan, penyediaan pusat pengumpulan hasil, gudang penyimpanan, fasilitas pengolahan, penguatan kelompok tani, hingga pembukaan akses pasar.
Kajian tersebut menekankan pentingnya hilirisasi, sehingga masyarakat tidak hanya menjual cempedak dalam bentuk buah segar, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan dengan nilai jual lebih tinggi.

Perlu Kolaborasi Lintas OPD
Optimalisasi cempedak sebagai komoditas unggulan Maybrat membutuhkan dukungan lintas sektor.

Bappeda diarahkan berperan dalam koordinasi perencanaan dan penyusunan roadmap, sementara Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan menjadi salah satu sektor teknis utama dalam peningkatan budidaya dan produksi.
Dinas PUPR berperan dalam penyediaan infrastruktur produksi, sedangkan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM dapat mendorong hilirisasi, pengembangan sentra pengolahan, pengemasan, sertifikasi serta promosi produk. OPD lain, termasuk DPMK, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, Diskominfo, Dinas Pariwisata, BKAD dan perangkat daerah terkait juga memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem pengembangan cempedak.

Selain pemerintah daerah, pengembangan komoditas ini juga membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, Balai Penyuluhan Pertanian, perbankan, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, mitra pembangunan serta BP3OKP Papua Barat Daya.

Kajian tersebut juga menyarankan Pemerintah Kabupaten Maybrat membentuk Tim Koordinasi Pengembangan Komoditas Unggulan Cempedak Kabupaten Maybrat melalui Keputusan Bupati. Tim tersebut dapat dipimpin Bappeda dengan Dinas Pertanian sebagai leading sector teknis dan melibatkan OPD terkait, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan serta perwakilan masyarakat adat.

Cempedak sebagai Identitas Ekonomi Maybrat

Pengembangan cempedak dinilai bukan hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pertanian, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi masyarakat kampung.
Melalui penguatan UMKM, industri pengolahan, pemasaran digital, agrowisata dan promosi kuliner lokal, cempedak berpotensi menjadi salah satu ikon ekonomi dan produk unggulan khas Kabupaten Maybrat.

Kajian tersebut memproyeksikan sejumlah dampak positif, antara lain peningkatan pendapatan petani, tumbuhnya UMKM berbasis komoditas lokal, terbukanya lapangan kerja, bergeraknya ekonomi kampung dan distrik, terbentuknya rantai nilai yang berkelanjutan, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat adat melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, cempedak di Aifat Selatan dan Aifat Timur memiliki peluang untuk dikembangkan dari sekadar komoditas pangan lokal menjadi komoditas ekonomi strategis Kabupaten Maybrat.

Dengan dukungan infrastruktur, kelembagaan petani, teknologi pengolahan, akses pembiayaan, kemitraan dan perluasan pasar, potensi cempedak diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian daerah.

Kajian tersebut menyimpulkan bahwa cempedak dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat Maybrat apabila pengembangannya dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir;(Ones).