Belanda, Wabumpapua.Com — Firman Tuhan tidak hanya untuk dibaca, tetapi harus direnungkan, didoakan, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Firman Tuhan menjadi sumber kekuatan sekaligus makanan rohani yang menolong setiap orang percaya untuk bertumbuh dalam iman dan semakin dekat dengan Tuhan.

Pesan tersebut disampaikan Fred Athaboe, S.H., dalam materi berjudul “Cara Kita Memakan Firman Tuhan”. Materi ini mengajak umat Kristen untuk memahami firman Tuhan secara lebih mendalam dan tidak berhenti pada aktivitas membaca Alkitab semata.

Fred menjelaskan, membaca firman Tuhan secara sepintas dapat diibaratkan seperti seseorang yang sedang lapar tetapi hanya mencium aroma makanan. Aroma makanan memang dapat membangkitkan selera, tetapi tidak dapat mengenyangkan.

Demikian pula dengan firman Tuhan. Pembacaan yang tidak disertai perenungan, doa, dan penerapan dalam kehidupan dapat membuat inspirasi yang diperoleh hanya bersifat sementara dan mudah dilupakan.
Karena itu, umat Tuhan diajak untuk “memakan dan mengunyah” firman Tuhan. Ungkapan tersebut menjadi gambaran bahwa firman perlu diterima secara mendalam sehingga menjadi bagian dari kehidupan rohani dan memberikan kekuatan dalam menjalani kehidupan sebagai orang percaya.

Roh Menjadi “Organ” untuk Menerima Firman

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa untuk menerima firman Tuhan sebagai makanan rohani, manusia perlu menggunakan “organ” yang tepat, yakni roh.

Pikiran dan emosi tetap memiliki peran penting dalam membaca dan memahami Alkitab. Namun, firman Tuhan tidak hanya dimaksudkan untuk dipahami secara intelektual atau sekadar membangkitkan perasaan. Firman harus diterima dalam roh, hati, dan jiwa sehingga memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh kehidupan seseorang.

Hal tersebut dikaitkan dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:63: “Rohlah yang memberi hidup; daging tidak ada gunanya; perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa firman Tuhan memiliki dimensi kehidupan rohani yang perlu diterima dengan hati yang terbuka.

Melatih Roh Melalui Doa dan Firman
Fred juga menekankan pentingnya melatih roh melalui kehidupan doa dan firman Tuhan. Proses tersebut diibaratkan seperti seseorang yang melatih kakinya dengan berjalan.
Roh perlu dilatih melalui doa, membaca dan mempelajari firman Tuhan, merenungkannya, serta mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, firman Tuhan tidak hanya menjadi pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran, tetapi benar-benar menjadi bagian dari karakter dan kehidupan orang percaya.
Hubungan antara Roh Kudus, firman Tuhan, doa, dan kehidupan rohani juga ditekankan melalui Efesus 6:17-18. Umat diajak untuk terus membuka diri terhadap tuntunan Roh Kudus melalui kehidupan yang dibangun di atas firman dan doa.

Tidak Sekadar Mengejar Banyak Ayat
Materi “Cara Kita Memakan Firman Tuhan” juga mengingatkan bahwa dalam membaca Alkitab, seseorang tidak harus selalu menyelesaikan satu pasal atau bagian yang panjang dalam satu waktu.

Yang lebih penting adalah memberikan ruang untuk membaca dengan tenang, merenungkan isi firman, berdoa, dan memberikan respons terhadap firman yang menyentuh hati.
Salah satu cara yang dianjurkan adalah berdoa sebelum membaca Alkitab. Setelah itu, seseorang dapat membaca bagian firman tertentu dan menjadikan ayat yang dibaca sebagai doa pribadi.
Cara tersebut dapat membantu umat untuk lebih fokus kepada firman Tuhan sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat dengan-Nya.

Firman Membawa pada Pertobatan
Dalam proses perenungan firman, seseorang juga dapat menyadari kesalahan maupun dosa yang sebelumnya tidak disadari.
Karena itu, ketika firman Tuhan menyingkapkan kesalahan dalam kehidupan, umat diajak untuk segera mengakuinya di hadapan Tuhan dan melanjutkan perenungan dengan hati yang terbuka.

Materi tersebut juga menekankan bahwa seseorang tidak perlu merasa harus menerima terlalu banyak firman sekaligus. Beberapa ayat yang dibaca secara perlahan, kemudian direnungkan dan didoakan, dapat memberikan pemahaman serta pengalaman rohani yang lebih mendalam.

Dengan mengulang firman Tuhan dan menjadikannya sebagai doa, kehidupan doa juga diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi dipenuhi dengan ucapan syukur, pujian, iman, dan pengharapan kepada Tuhan.
Firman Tuhan Menjadi Kebutuhan Sehari-hari

Pada akhirnya, materi “Cara Kita Memakan Firman Tuhan” mengajak setiap orang percaya untuk menjadikan firman Tuhan sebagai kebutuhan rohani sehari-hari.

Firman tidak cukup hanya dibaca. Firman perlu diterima dalam roh dan hati, direnungkan, didoakan, serta diwujudkan melalui kehidupan nyata.
Melalui proses tersebut, umat diharapkan tidak hanya mengetahui firman Tuhan, tetapi mengalami perubahan hidup dan semakin bertumbuh dalam iman.
“Semoga firman-Nya menjadi roh dan kehidupan bagi Anda. Dan semoga Roh-Nya dan firman-Nya menghidupkan Anda dan memuaskan rasa lapar rohani,” demikian pesan penutup dalam materi tersebut;(Ones).