MANOKWARI, WABUMPAPUA.COM – Peristiwa yang menimpa Presenter TVRI Papua Barat, Yanto Idorway, menjadi pengingat bagi insan pers akan besarnya risiko yang dapat dihadapi dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama saat mengungkap fakta yang menyangkut kepentingan pihak-pihak tertentu.

Hal tersebut disampaikan anggota Komunitas Wartawan Papua Utara, Mochtar, melalui sebuah tulisan reflektif yang menceritakan pengalaman pribadinya saat masih aktif menjalankan tugas jurnalistik di Papua.

Dalam kisahnya, Mochtar mengungkapkan bahwa dirinya pernah mendapat penugasan meliput aktivitas di salah satu lokasi tambang ilegal di Papua. Sebelum berangkat, ia sempat diperingatkan oleh sejumlah wartawan senior agar tidak ikut dalam peliputan karena sebelumnya telah memberitakan berbagai kasus, mulai dari praktik sabung ayam, perjudian togel, dugaan penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, hingga persoalan lain yang berkaitan dengan kepentingan kelompok tertentu.

Akibat pemberitaan tersebut, ia mengaku menerima berbagai bentuk intimidasi, termasuk ancaman pembunuhan. Meski demikian, tugas jurnalistik tetap dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Menurutnya, perjalanan menuju lokasi tambang dilakukan menggunakan dua speedboat sebelum akhirnya melanjutkan peliputan di lokasi.
Namun, dalam perjalanan pulang, rombongan yang ditumpanginya beberapa kali mendapat tembakan sehingga harus segera melakukan evakuasi menuju titik aman sebelum dijemput menggunakan helikopter.
Setelah kembali dari penugasan, intimidasi disebut masih terus berlanjut. Keluarganya mengabarkan bahwa orang-orang tak dikenal datang mencarinya dengan membawa senjata api. Bahkan selama hampir satu tahun, setiap aktivitasnya merasa terus diawasi, termasuk saat beribadah di gereja.

Mochtar menuturkan, pada akhirnya ia sempat bertemu dengan pihak yang diduga berada di balik intimidasi tersebut. Dalam pertemuan itu, dirinya mengaku sempat mendapat berbagai tawaran, namun pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa seorang jurnalis harus tetap memegang teguh integritas dan menyampaikan fakta secara jujur.
“Menjadi jurnalis yang bekerja dengan jujur dan menyampaikan fakta apa adanya memang tidak selalu mudah. Kebenaran sering kali membuat pihak-pihak tertentu merasa terganggu. Karena itu, selain memegang teguh integritas, seorang jurnalis juga harus selalu mengutamakan kewaspadaan dan keselamatan dalam menjalankan tugas,” tulis Mochtar.

Melalui refleksi tersebut, Komunitas Wartawan Papua Utara juga menyampaikan keprihatinan atas peristiwa yang menimpa Yanto Idorway. Mereka berharap presenter TVRI Papua Barat tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat serta keluarga diberikan kekuatan dan penghiburan dalam menghadapi situasi yang terjadi.

Komunitas Wartawan Papua Utara menegaskan bahwa profesi jurnalis merupakan pilar penting demokrasi yang memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi secara benar kepada masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan terhadap keselamatan jurnalis menjadi tanggung jawab bersama agar kebebasan pers tetap terjaga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penulis: Mochtar
Editor: Wabumpapua.com