Maybrat, Wabumpapua.Com – Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maybrat, Hendrik Frasawi, S.Sos., M.AP., melakukan kunjungan ke lokus program Sekolah Sehari Maybrat dalam rangka monitoring dan evaluasi proses kegiatan belajar mengajar sekaligus membagikan seragam kepada para Siswa-Siswi sekolah Dasar.
Hendrik Frasawi yang merupakan peserta Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan X Tahun 2026 tersebut mengatakan, kunjungan dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan proses pembelajaran serta memastikan program Sekolah Sehari berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 140 siswa-Siswi menerima bantuan pakaian seragam. Para siswa-Siswi yang mendapatkan seragam tersebut terdiri dari kelas IV, V dan VI.
“Jumlah peserta yang menerima seragam di sini sebanyak 140 siswa. Mereka terdiri dari kelas VI, kelas V dan kelas IV,” ujar Hendrik saat melakukan monitoring, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, salah satu perkembangan yang cukup menggembirakan dari pelaksanaan Sekolah Sehari Maybrat adalah adanya peningkatan kemampuan siswa, khususnya dalam bidang literasi dan numerasi.
Ia menjelaskan, sejak mengikuti program tersebut selama kurang lebih dua bulan, para siswa mendapatkan pendampingan secara intensif sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Bahkan, kata Hendrik, siswa-Siswi yang sebelumnya belum mampu membaca dan mengeja diberikan pendampingan secara khusus hingga mencapai tingkat ketuntasan, sebelum kemudian digabungkan dengan kelompok siswa yang sudah memiliki kemampuan lebih baik.
“Perkembangannya luar biasa. Bebannya memang ada pada guru, karena guru harus menangani anak yang sudah bisa dan anak yang sama sekali belum bisa. Tetapi saya sudah sampaikan kepada guru bahwa anak-anak ini harus dituntaskan,” jelasnya.

Hendrik mengatakan, guru dituntut untuk memberikan pendampingan secara berkelanjutan. Setiap hari, siswa-Siswi yang belum menguasai materi diberikan bimbingan secara individu maupun kelompok.
“Misalnya ada dua atau tiga anak yang belum bisa, guru harus membimbing mereka sampai bisa. Setelah tuntas, mereka bisa bergeser dan bergabung dengan kelompok yang sudah bisa,” katanya.
Ia menilai, kemampuan literasi dan numerasi masih menjadi salah satu tantangan utama pendidikan di Kabupaten Maybrat. Karena itu, program Sekolah Sehari diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk mempercepat peningkatan kemampuan dasar siswa.
“Memang ini bagian yang di Maybrat rapornya masih merah, yaitu ketuntasan literasi dan numerasi. Membaca dan menulis itu bukan sekadar bisa membaca, tetapi anak harus mampu mengeja dan memahami. Begitu juga berhitung, bukan hanya mengetahui angka satu, dua, tiga, tetapi memahami operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Hendrik mengatakan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik siswa-Siswi, tetapi juga bagaimana guru mampu memahami karakter dan kondisi psikologis setiap anak.
Menurutnya, guru tidak dapat menerapkan metode pembelajaran yang sama secara menyeluruh kepada semua siswa tanpa melihat kemampuan masing-masing individu.
“Guru harus menguasai anak secara pribadi. Jangan hanya berdiri di depan kelas dan berbicara secara umum. Guru harus mengetahui tingkat ketuntasan masing-masing anak dan memahami perilaku serta karakter mereka,” tegasnya.
Dalam kunjungannya, Hendrik juga melihat langsung aktivitas siswa-siswi hingga sore hari. Ia mengaku melihat semangat belajar siswa-Siswi tetap tinggi meskipun mereka telah mengikuti kegiatan sejak pagi.
“Jam-jam kritis sebenarnya anak-anak sudah mulai capek. Tetapi ketika saya datang sekitar pukul 15.00 WIT, saya melihat semangat mereka masih luar biasa. Bahkan mereka tetap mengikuti kegiatan sampai sore,” katanya.
Selain proses belajar mengajar, Hendrik juga meninjau dapur utama yang menyediakan makanan bagi para siswa-Siswi. Ia menyebutkan, terdapat tujuh orang pendukung yang terlibat dalam penyediaan makanan, terdiri dari enam perempuan dan satu laki-laki.
Ia juga menggali pengalaman para siswa selama mengikuti program Sekolah Sehari. Dari hasil interaksi tersebut, diketahui bahwa para siswa-Siswi yang berasal dari sejumlah wilayah seperti Sire, Yukase dan Mapura sebelumnya belum saling mengenal.
Namun, setelah mengikuti program secara bersama-sama, para siswa mulai membangun hubungan pertemanan dan merasa lebih nyaman mengikuti kegiatan di sekolah.
“Dulu mereka datang dari tempat masing-masing dan tidak saling mengenal. Sekarang mereka sudah memiliki banyak teman. Mereka mengatakan di sini mereka bertahan sampai sore, mendapatkan teman dan menjadi lebih bersemangat,” ungkap Hendrik

Hendrik berharap program Sekolah Sehari Maybrat dapat terus diperkuat melalui intervensi pemerintah secara menyeluruh, sehingga mampu memberikan perubahan nyata terhadap kualitas pendidikan dan kemampuan dasar anak-anak di Maybrat.
Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan membutuhkan perhatian terhadap setiap anak secara individual, termasuk kemampuan akademik, karakter, perilaku dan kondisi psikologis mereka.
“Kalau anak-anak dilepas begitu saja, tanpa dikumpulkan dalam satu lokus yang baik dan tanpa intervensi pemerintah secara penuh, perubahan akan sulit dicapai. Karena itu, kita harus bersama-sama memastikan anak-anak ini benar-benar tuntas dalam belajar,” pungkasnya;(Ones).




komentar terbaru