Jayapura, Wabumpapua.Com — Mantan pemain Tim Nasional (Timnas) Indonesia asal Papua, Yanto Basna, melontarkan kritik tajam terhadap manajemen Persipura Jayapura. Ia mempertanyakan pola perekrutan pelatih dan pemain yang dinilai perlu dievaluasi agar lebih profesional dan sesuai dengan tuntutan sepak bola modern.

Yanto Basna, yang kini diketahui berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Cenderawasih, menilai bahwa klub sepak bola pada era modern harus mengedepankan pendekatan berbasis data dan statistik dalam menentukan komposisi pemain maupun memilih pelatih.

Menurutnya, proses perekrutan tidak seharusnya hanya mengandalkan perasaan (feeling) atau romantisme terhadap masa lalu, tetapi harus didasarkan pada evaluasi objektif, kualitas, kebutuhan tim, serta rekam jejak dan performa.

Dalam kritiknya yang beredar di media sosial, Yanto menegaskan bahwa persaingan sepak bola modern menuntut setiap klub memiliki sistem rekrutmen yang terukur dan profesional.
“Era sepak bola modern ini setiap klub bersaing mendapatkan komposisi pemain menggunakan data dan statistik, bukan merekrut pelatih dan pemain berdasarkan feeling dan romantisme masa lalu,” demikian pandangan Yanto Basna.

Ia juga menyoroti performa tim yang dinilai belum stabil. Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan pertanyaan mengenai profesionalisme dan mekanisme evaluasi dalam proses perekrutan pemain.

Yanto mempertanyakan apakah proses perekrutan yang dijalankan manajemen sudah benar-benar melalui pertimbangan matang, termasuk kesesuaian karakter pemain dengan kebutuhan tim dan strategi permainan pelatih.

Selain persoalan rekrutmen, Yanto turut menyinggung aspek finansial dalam membangun kekuatan tim. Ia menyarankan agar apabila kondisi keuangan klub memadai, manajemen berani mendatangkan pemain berkualitas yang benar-benar dibutuhkan untuk meningkatkan performa tim.
“Saran, kalau finansial bagus, beli pemain jangan tanggung-tanggung,” tegasnya.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan pentingnya keberanian manajemen dalam mengambil keputusan strategis, terutama dalam mendatangkan pemain yang memiliki kualitas dan kontribusi nyata bagi tim.

Namun, investasi untuk mendatangkan pemain juga perlu disertai perencanaan yang matang, analisis kebutuhan tim, serta pengelolaan anggaran yang bertanggung jawab agar pengeluaran klub sebanding dengan hasil yang diharapkan.

Dalam kritiknya, Yanto juga mengutip pesan almarhum MR. Kambu mengenai pentingnya menjaga harga diri.
“Alm. Bapa MR. Kambu bilang, harga diri itu mahal,” ungkapnya.

Ia kemudian menyampaikan seruan singkat yang ditujukan kepada Persipura Jayapura, yakni “Bangkit dan berbenah.”
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa Persipura perlu melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi manajemen, perekrutan pemain dan pelatih, maupun strategi membangun tim yang kompetitif.

Sebagai salah satu klub yang memiliki sejarah panjang dan basis pendukung besar di Papua, Persipura diharapkan mampu terus berbenah agar dapat kembali menunjukkan performa terbaik dan bersaing secara konsisten di kompetisi sepak bola nasional.

Kritik Yanto Basna pun menjadi pengingat bahwa kebesaran sejarah klub perlu diimbangi dengan tata kelola profesional, perencanaan jangka panjang, serta keputusan yang didasarkan pada data dan kebutuhan nyata tim.

Meski demikian, penilaian terhadap kinerja manajemen Persipura perlu ditempatkan secara objektif dengan mempertimbangkan kondisi keuangan, kebijakan klub, dan hasil evaluasi resmi. Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari manajemen Persipura Jayapura mengenai kritik yang disampaikan Yanto Basna tersebut;ujarnya(ones).