Jayapura, Wabumpapua.Com —ketua Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua Pdt. Andrikus Mofu meneguhkan 228 pendeta dalam ibadah peneguhan yang berlangsung di Gereja GKI Harapan Abepura, Jayapura, Papua, Minggu (18/10/2026). Peneguhan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pelayanan gereja sekaligus menandai keberlanjutan sejarah dan pertumbuhan GKI di Tanah Papua.

Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, dalam pesan firman Tuhan menegaskan bahwa pemberitaan Injil merupakan panggilan utama gereja yang harus terus dilaksanakan dengan penuh kesetiaan, iman, dan tanggung jawab.

Ia menyampaikan bahwa peneguhan 228 pendeta bukan sekadar seremoni gerejawi, melainkan bentuk pengutusan dan penyerahan diri untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan melalui pelayanan kepada jemaat dan masyarakat.

Menurutnya, para pendeta yang baru diteguhkan memiliki tanggung jawab besar untuk memberitakan Injil, membimbing umat, serta menjaga keberlangsungan pelayanan gereja di berbagai wilayah Tanah Papua.

Dalam mengawali penyampaian firman Tuhan, Pdt. Andrikus Mofu menyampaikan ucapan selamat Hari Minggu kepada seluruh jemaat yang hadir. Ia mengingatkan bahwa Hari Minggu merupakan hari kebangkitan Yesus Kristus yang menjadi dasar iman, pengharapan, dan kehidupan umat Kristen.

Ia kemudian mengacu pada kesaksian Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:14, yang menegaskan bahwa apabila Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah iman orang percaya.

Namun, karena Yesus Kristus telah bangkit, umat percaya memiliki dasar yang kokoh untuk terus bersyukur, beribadah, dan menyatakan kebesaran Tuhan melalui kehidupan serta pelayanan mereka.

Pdt. Andrikus Mofu juga menyampaikan penghormatan kepada Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua, unsur pemerintah daerah, jajaran TNI dan Polri, Majelis Rakyat Papua (MRP), DPR Papua, para mitra gereja, pelayan firman, majelis jemaat, serta keluarga dari 228 pendeta yang diteguhkan.


Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Andrikus Mofu mengajak seluruh warga gereja untuk kembali mengenang perjalanan sejarah GKI di Tanah Papua, khususnya pelaksanaan sidang sinode pertama pada 18 Oktober 1956 di Gereja GKI Harapan Abepura, Jayapura.Dan Hari ini pula 18 Oktober 2026 juga Sinode GKI Tanah Papua meneguhkan 228 orang pendeta baru di Gereja Harapan Abepura Jayapura merupakan Gereja yang awal mulanya sidang Sinode pertama kali dilaksanakan.

Menurutnya, sejarah tersebut memiliki makna penting karena gereja pada masa itu menghadapi tantangan besar, terutama ketika para tenaga penginjil atau misionaris dari luar negeri harus mengakhiri tugas pelayanan dan kembali ke negara asal masing-masing.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan orang Papua untuk melanjutkan kepemimpinan dan pelayanan gereja secara mandiri.

Pada masa itu, keterbatasan tenaga pendeta yang berpendidikan tinggi, kemampuan keuangan, serta sumber daya pendukung lainnya menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan pelayanan GKI di Tanah Papua.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, para pendahulu tetap berpegang pada keyakinan bahwa pekerjaan Tuhan akan terus berjalan selama firman-Nya diberitakan dan Injil disampaikan kepada umat manusia.

Pdt. Andrikus menegaskan bahwa semangat iman tersebut harus terus diwariskan kepada generasi pelayan gereja saat ini. Ia mengingatkan bahwa keberlangsungan pelayanan GKI tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tenaga pendeta, tetapi terutama oleh kesetiaan dalam memberitakan firman Tuhan dan menjalankan panggilan pelayanan.

Lebih lanjut, Pdt. Andrikus Mofu menyampaikan bahwa perjalanan panjang GKI di Tanah Papua menunjukkan perkembangan yang sangat berarti, khususnya dalam ketersediaan sumber daya manusia untuk mendukung pelayanan gereja.
Jika pada masa awal gereja menghadapi keterbatasan tenaga pendeta, saat ini GKI di Tanah Papua telah memiliki lebih dari 2.000 pendeta yang melayani di berbagai wilayah.

Ia juga menyampaikan bahwa peneguhan pendeta akan terus berlanjut. Setelah peneguhan 228 pendeta di Jayapura pada Minggu, 18 Oktober 2026, direncanakan peneguhan 193 pendeta di Sorong pada Minggu berikutnya, serta sekitar 100 pendeta lagi pada Maret 2027.

Menurutnya, pertambahan jumlah pendeta tersebut merupakan perkembangan positif bagi pelayanan gereja. Namun, peningkatan jumlah pelayan Tuhan harus diikuti dengan komitmen yang kuat, integritas, kedisiplinan, serta kesungguhan dalam melayani jemaat.

Para pendeta juga diharapkan mampu menjadi teladan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat, membangun hubungan yang baik dengan seluruh warga jemaat, serta menghadirkan nilai-nilai kasih, damai, dan persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat Papua.


Pdt. Andrikus Mofu menegaskan bahwa 228 pendeta yang diteguhkan merupakan bagian penting dari perjalanan panjang sejarah GKI di Tanah Papua. Karena itu, mereka diharapkan mampu meneruskan semangat pelayanan para pendahulu yang tetap setia memberitakan Injil meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Ia juga mengajak seluruh warga gereja untuk senantiasa bersyukur atas penyertaan Tuhan, memperkuat persatuan, serta memberikan dukungan kepada para pendeta dalam menjalankan tugas pelayanan di tengah jemaat dan masyarakat.

Peneguhan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa panggilan seorang pendeta bukan hanya berkaitan dengan jabatan gerejawi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual untuk melayani umat dengan tulus, menjaga kepercayaan jemaat, serta menyampaikan firman Tuhan secara benar.

Dengan diteguhkannya 228 pendeta, GKI di Tanah Papua diharapkan semakin memperkuat jangkauan pelayanan di berbagai wilayah, sekaligus melanjutkan warisan iman yang telah dibangun oleh para pendahulu.

Momentum bersejarah ini menegaskan kembali bahwa pertumbuhan gereja harus senantiasa berlandaskan iman kepada Yesus Kristus, kesetiaan dalam pelayanan, serta komitmen untuk terus memberitakan Injil kepada semua orang. (Ones)