Belanda,wabumpapua.com – Masyarakat Papua akan memperingati 100 Tahun Batu Peradaban Bangsa Papua pada Sabtu, 25 Oktober 2025, sebuah momentum bersejarah yang menandai satu abad sejak Pdt. Izaak Samuel Kijne meletakkan dasar pendidikan dan kebangkitan peradaban bagi masyarakat Papua di Bukit Aitumieri, Miei, Wasior.
Perayaan akbar ini menjadi peringatan satu abad kedua di Tanah Papua setelah perayaan 100 Tahun masuknya Injil pada 5 Februari 1955 di Pulau Mansinam, Teluk Doreri.
Pdt. Izaak Samuel Kijne, seorang misionaris berkebangsaan Belanda berdarah Yahudi, dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah pendidikan dan kekristenan di Tanah Papua. Ia tiba di Mansinam pada 23 Juni 1923, kemudian memindahkan Sekolah Guru dari Mansinam ke Miei, Wasior, karena kondisi tanah di Mansinam tidak subur.
Di Miei, pada 25 Oktober 1925, Kijne berdoa di atas sebuah batu di Bukit Aitumieri dan menyampaikan nubuatan yang kemudian dikenal luas sebagai dasar peradaban bangsa Papua. Dalam doanya, ia mengucapkan kalimat bersejarah:
“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban bangsa Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat untuk memimpin bangsa ini, tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin bangsanya sendiri.”
Pesan profetis ini kemudian dimaknai sebagai janji kebangkitan bangsa Papua untuk mampu berdiri dan memimpin dirinya sendiri di masa depan.
Selama 35 tahun (1923–1958) Kijne mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan dan penginjilan di Tanah Nieuw-Guinea. Ia mendidik para guru, pendeta, dan pemimpin lokal yang kemudian berperan penting dalam pemerintahan dan gereja di Tanah Papua.
Ia juga dikenal sebagai penyusun Mazmur dan Nyanyian Rohani, yang hingga kini masih digunakan dalam liturgi Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua.
Sekolah yang didirikan Kijne di Miei kemudian berkembang menjadi dua sekolah guru (ODO) — satu di Serui untuk wilayah utara dan satu di Fakfak untuk wilayah selatan dan barat Papua. Dari lembaga inilah lahir para guru yang menjadi pelopor pendidikan rakyat di masa kolonial Belanda.
Selain itu, pada 26 Oktober 1956, berdirilah Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Nieuw-Guinea, yang merupakan kelanjutan langsung dari pelayanan dan karya pendidikan yang diletakkan oleh Pdt. Kijne.
Dua hari sebelum peringatan Batu Peradaban, masyarakat Maybrat juga memperingati 74 Tahun Theofani, sebuah peristiwa rohani yang diyakini sebagai penampakan Tuhan Yesus kepada Guru Ruben Rumbiak di Kayahai, Kambuaya pada 21 Oktober 1951.
Perayaan ini telah menjadi tradisi tahunan antara gereja dan pemerintah daerah Maybrat.
Dalam refleksinya yang ditulis dari Belanda, Fred Athaboe, S.H., tokoh asal Papua berusia 81 tahun, mengingatkan agar makna rohani dari Theofani tidak bergeser menjadi perayaan sekuler. Ia mengajak masyarakat Maybrat untuk merenung dan berpuasa sebelum peringatan agar nilai spiritual peristiwa tersebut tetap terjaga.
“Jika kita mau merendahkan diri dan mengakui kegagalan kita dalam melaksanakan firman Tuhan Yesus, maka Tuhan akan memperbaharui berkat-Nya atas suku Maybrat,” tulis Fred Athaboe.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kemurnian iman dan menjauhi praktik yang bertentangan dengan ajaran Alkitab, seperti pembuatan patung atau simbol yang bisa menggeser makna penyembahan.
Perayaan 100 Tahun Batu Peradaban Bangsa Papua dan 74 Tahun Theofani Maybrat menjadi dua momen penting dalam sejarah iman dan kebudayaan Papua.
Keduanya mencerminkan jejak panjang karya misionaris dan guru-guru Injil yang telah menanamkan dasar pendidikan, moral, dan spiritualitas bagi generasi Papua.
“Apa yang telah ditanam oleh Pdt. I.S. Kijne dan para guru injil bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga kesadaran bahwa bangsa Papua memiliki martabat, iman, dan masa depan yang harus diperjuangkan dengan kasih dan kerja keras,” tulis Athaboe menutup refleksinya.




komentar terbaru