Kambuaya, Mayiman, wabumpapua. Com-Suasana fajar di Kampung Kambuaya, Kabupaten Maybrat, terasa berbeda dari biasanya. Saat embun pagi masih bergelayut di dedaunan dan angin membawa aroma tanah yang basah, nyala obor perlahan menari di tengah gelap, menerangi setiap jalan setapak dan sudut kampung.
Tepat pukul 04.00 WIT, dentang lonceng gereja memecah kesunyian pagi. Puluhan warga mulai keluar dari rumah masing-masing, membawa obor bambu yang telah mereka siapkan sejak malam sebelumnya. Udara dingin tak menyurutkan semangat warga yang berkumpul dengan wajah penuh sukacita.
Kegiatan Pawe Obor Subuh ini digelar dalam rangka Doa Syukur Teofani ke-74, sebuah perayaan iman yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat A3 (Aitinyo, Aifat, dan Ayamaru). Bagi mereka, Kambuaya dikenal sebagai kampung peradaban yang menjadi bagian penting dalam sejarah Teofani di Tanah Papua.
Sekitar pukul 05.00 WIT, iring-iringan pawe dimulai serentak dari berbagai arah — Kampung Faitmajin Raya, Kambuaya, Huberita, dan Ismayo. Warga berjalan membawa obor menyusuri jalan setapak dan jalan raya menuju halaman Kantor Kampung Kambuaya, yang menjadi titik pertemuan utama.
Nyala api obor yang berkelap-kelip di tengah remang fajar menciptakan pemandangan yang memukau. Anak-anak berjalan di barisan depan dengan penuh semangat, sementara para orang tua dan tokoh masyarakat mengikuti di belakang sambil menyanyikan lagu-lagu pujian, termasuk “Ruben Rumbiak Tiba di Kampung Kambuaya”, yang menggema penuh sukacita sepanjang perjalanan.
Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, seluruh rombongan dari berbagai kampung bertemu di titik sentral Kambuaya Raya. Obor-obor dari berbagai arah menyatu menjadi simbol persatuan, syukur, dan terang kasih Tuhan bagi bumi A3 melalui karya iman di Kampung Kambuaya.
Acara Pawe Obor ditutup dengan Doa Syukur yang dipimpin oleh Pdt. Abraham Semunya, Ketua Klasis Ayamaru. Seusai doa, warga menikmati sarapan bersama sebagai wujud kebersamaan dan persaudaraan antarwarga kampung yang telah dirajut oleh iman yang sama.
Dalam refleksinya, para tokoh kampung menegaskan bahwa makna dari kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan pengingat akan panggilan ilahi — bahwa Allah telah memilih dan memberkati Kampung Kambuaya serta masyarakatnya untuk terus menjaga terang Teofani tetap menyinari Tanah Papua.
Dengan menjaga persatuan, kerendahan hati, kasih, dan kehormatan, masyarakat Kambuaya percaya bahwa berkat Tuhan akan terus turun-temurun, menjadi kekuatan bagi generasi penerus untuk membangun bumi New Guinea dalam terang iman dan kasih Kristus.




komentar terbaru