Maybrat, Wabumpapua.Com — Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk mendorong penyelesaian secara tuntas dan transparan atas kasus penembakan terhadap tiga warga sipil di wilayah Kabupaten Maybrat, Rabu (19/8/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Elisa Kambu saat menemui massa masyarakat Maybrat yang menyampaikan aspirasi dan tuntutan terkait insiden penembakan serta persoalan keamanan di wilayah tersebut.

Turut hadir dalam agenda tersbut yakni Bupati Maybrat Karel Murafer bersama jajaran Forkopimda pemerintah daerah, unsur Forkopimda provinsi Papua Barat Daya , pimpinan TNI-Polri, DPR, MRP, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan elemen masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, massa yang dikoordinatori Yoseph Momau menyampaikan sejumlah tuntutan. Di antaranya meminta penarikan personel militer organik maupun nonorganik yang menggunakan rumah warga, sekolah, serta fasilitas kampung untuk kepentingan militer di wilayah Tanah Maybrat.

Massa juga mendesak agar kasus penembakan terhadap tiga warga sipil di wilayah Aifat Timur segera diusut secara menyeluruh, transparan, jujur, dan adil. Mereka meminta pemerintah dan aparat penegak hukum memberikan kepastian hukum serta memastikan peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

Selain itu, masyarakat meminta adanya pernyataan dan komitmen bersama antara pemerintah daerah, TNI-Polri, serta masyarakat untuk menjaga keamanan dan menjamin perlindungan terhadap warga sipil.

Sementara itu, perwakilan tokoh masyarakat Petrus Turot dan Yahya Momau mewakili masyarakat dan kelompok pro-demokrasi serta pemerhati hak asasi manusia menegaskan bahwa tuntutan yang disampaikan merupakan bentuk kepedulian terhadap perlindungan warga sipil dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Masyarakat meminta agar proses penyelidikan terhadap penembakan tiga warga sipil dilakukan secara transparan, independen, jujur, dan adil serta tidak mengabaikan keterangan korban, keluarga korban, maupun masyarakat yang mengetahui peristiwa tersebut. Kami minta panglima TNI segera menarik pasukan Non Organik yang ada di wilayah Maybrat;Ujarnya.

Menanggapi tuntutan tersebut, Gubernur Elisa Kambu menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Maybrat yang telah menyampaikan aspirasi secara tertib dan damai.
Ia menilai sikap masyarakat yang mampu menjaga keamanan selama beberapa hari merupakan bentuk kedewasaan dalam menyampaikan pendapat di ruang publik.
“Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Bapak, Ibu, adik-adik dan seluruh masyarakat. Dalam keadaan yang begitu berat, tetapi tetap datang, menjaga situasi sampai hari ini, bertahan dan mampu mengendalikan diri,” ujar Elisa Kambu.

Menurutnya, penyampaian aspirasi secara damai harus menjadi contoh dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Papua Barat Daya. Ia mengajak seluruh pihak mengedepankan akal sehat, mekanisme hukum, serta dialog dalam menyelesaikan setiap persoalan.
“Kita gunakan forum yang ada dan mekanisme yang ada untuk menyampaikan aspirasi secara tertib. Tidak perlu anarkis dan tidak perlu merusak fasilitas,” katanya.

Terkait tuntutan penarikan personel militer, Elisa menjelaskan bahwa kewenangan tersebut berada pada pemerintah pusat. Karena itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya akan meneruskan aspirasi masyarakat kepada pemerintah pusat.
“Penarikan itu adalah aspirasi yang sudah disampaikan. Kami juga akan meneruskannya kepada pemerintah pusat karena otoritasnya ada di pemerintah pusat. Saya juga akan menyampaikan secara tertulis melalui surat Gubernur,” tegasnya.

Sementara terkait kasus penembakan tiga warga sipil, Gubernur menegaskan bahwa pemerintah mendukung proses penyelidikan dan pengusutan secara tuntas.

Elisa meminta masyarakat memberikan ruang kepada aparat kepolisian untuk melakukan investigasi dan mengumpulkan seluruh fakta di lapangan sehingga proses hukum dapat berjalan secara objektif.
“Kita semua mendukung proses pengusutan secara tuntas masalah ini. Saya minta dalam kasih Tuhan kita semua memberikan kesempatan kepada pihak kepolisian untuk melakukan investigasi, bekerja, dan kemudian mengumumkan hasilnya kepada kita,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa proses penyelidikan membutuhkan waktu karena aparat harus mengumpulkan bukti dan memastikan kronologi kejadian secara menyeluruh.

Kapolda Papua Barat Daya Brigjen Pol. Yulius Audie Sonny Latuheru, S.I.K., M.Han., yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, menegaskan bahwa kepolisian akan menindaklanjuti tuntutan masyarakat dan mengusut kasus tersebut.

Kapolda menyampaikan bahwa dirinya memahami keresahan masyarakat dan memberikan perhatian serius terhadap tuntutan agar kasus penembakan di Maybrat diusut sampai tuntas.
“Saya perhatikan betul tuntutannya itu untuk usut tuntas, dan kita akan langsung tuntaskan,” tegasnya.

Namun, ia meminta masyarakat memberikan ruang yang aman kepada penyidik untuk bekerja. Menurutnya, proses pengumpulan data di tempat kejadian perkara sangat penting untuk memastikan penyelidikan berjalan berdasarkan fakta dan bukti.
“Saya mohon, bantu kami menciptakan suasana yang aman supaya anggota bisa turun ke lapangan. Sampai sekarang kami belum bisa bicara banyak karena data yang dikumpulkan langsung dari TKP belum lengkap,” jelasnya.

Kapolda memastikan jajaran Polda Papua Barat Daya akan menggunakan seluruh potensi yang tersedia untuk mengungkap kasus tersebut.
Ia juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa dan masyarakat yang membantu menjaga keamanan selama aksi berlangsung.

Menurutnya, penyampaian aspirasi yang berlangsung tertib tanpa tindakan anarkis merupakan bentuk demokrasi yang baik.
“Ini baru demo yang betul. Aspirasi tersampaikan, tetapi tidak ada fasilitas yang rusak,” ujarnya.

Bupati Maybrat Karel Murafer juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah menyampaikan aspirasi secara damai. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mengawal aspirasi masyarakat dan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun aparat penegak hukum.

Bupati berharap seluruh pihak memberikan ruang kepada proses hukum untuk berjalan serta tetap menjaga keamanan dan ketertiban di Kabupaten Maybrat(Ones).